Tanda-tanda Kecil Kiamat

| No Comments | No TrackBacks

Seingat saya, pada awalnya dari buku Tanbihul Ghafilin (Peringatan Bagi Yang Lupa), keterangan tentang tanda-tanda kiamat saya baca. Tanda-tanda tersebut dibagi dua: tanda kecil (sugra) dan tanda besar (kubra). Abu Laits as Samarqandi, penulis buku, tidak memberikan keterangan dikaitkan dengan kondisi saat ini — lagipula buku tersebut sudah lama ditulis, termasuk literatur klasik. Setelah itu saya lebih sering mendengar tanda-tanda kiamat disebut lewat pengajian atau khotbah. Biasanya khatib menyebut relevansi dalil-dalil tersebut dengan keadaan saat ini, yakni dikaitkan dengan tanda-tanda kecil kiamat. Walaupun tanda-tanda yang disebutkan oleh para khatib tersebut tidak sama persis (dan juga tidak berbeda total), persamaannya adalah ihwal kemerosotan akhlak masyarakat. Tentu saya maklumi dengan sepenuh hati urusan akhlak menjadi prioritas para khatib.

Ada khatib yang menimpali — biasanya pada sesi tanya-jawab — bahwa tentulah kiamat lebih dekat, dibanding pada masa Rasulullah menyebut hadits yang bersangkutan. Ini mirip dengan metafora bahwa mereka yang berulang tahun sebenarnya jatah hidupnya berkurang setahun.

Sekarang bagaimana dengan isi dalam tanda-tanda kecil itu sendiri? Ini yang acapkali menggelitik saya.

Komunikasi yang Tidak Lancar

| 1 Comment | No TrackBacks

Tercetuslah pada beberapa kali kasus kesalahpahaman atau konflik bahwa persoalan tersebut mencuat semata-mata, “karena komunikasi yang tidak lancar.” Miskomunikasi, dari miscommunication.

Ada benarnya: kekeliruan memahami gaya pihak lain, media penghubung, suasana percakapan, adalah sedikit dari contoh faktor kemungkinan kegagalan berkomunikasi. Perbaikan dapat dilakukan dengan menghubungkan lagi pihak-pihak terkait lewat media baru atau penjelasan yang cukup. Relatif mudah, karena yang ditangani soal teknik berkomunikasi.

Ziarah Nostalgia

| 1 Comment | No TrackBacks

Menjenguk tempat yang dikaitkan dengan masa lalu sering menorehkan catatan tersendiri. Pulang kampung, mudik lebaran, ziarah nostalgia, atau benar-benar fungsional berlibur di tanah air buat perantau di negara lain. Kendati penamaan dan peristiwa faktualnya sebenarnya berhubungan dengan tempat, namun aspek waktu “ke belakang” lebih dominan. Berbeda dengan perjalanan dinas yang sangat sedikit — atau malah tiada — memiliki kaitan masa silam, ziarah nostalgia sarat dengan pembandingan, satu sisi berisi gurat-gurat kenangan dan sisi yang lain realita sekarang. Keduanya seolah muncul bak dua kolom tabel yang siap dikomentari per item.

Menekuni yang Lama, Melanjutkan dengan yang Baru

| 2 Comments | No TrackBacks

Bulan Juli yang telah lewat berisi hal-hal patut disyukuri. Saya bertemu dengan sobat-sobat teman lama yang mengenal saya sebagai narablog, mengobrol dan memberi motivasi kepada teman-teman baru. Ringkasnya: bersinggungan lagi dengan era lama. Memang terbersit perasaan khawatir: dapatkah saya cukup konsisten menyelami lagi “dunia lama” tersebut, sebagai penulis blog? Sementara aneka ragam permainan baru bertebaran dan memikat di Ranah 2.0. Sumber daya saya tetap atau terbatas, sedangkan pernik yang ditangani bertambah. Jika tak cakap mengelola, aktivitas tersebut dapat terbengkalai menjadi kegiatan sesaat.

Blog-foto telah saya jelajahi di Flickr dan komunitasnya. Tentu ini bukan representasi menyeluruh tentang photoblogging di Indonesia. Saya sendiri merasa seperti “sok bergaya” memajang foto di Flickr kemudian beranggapan sebagai photoblogger. Jangan khawatir: saya termasuk yang memasang definisi longgar untuk kegiatan blog. Semua orang berpotensi untuk ikut di dunia blog dan banyak cara menyajikan ide kita. Ini cerita panjang dan biasanya sudah disajikan di acara-acara perbincangan dengan narablog.

Rp 1.000

| No Comments | No TrackBacks

IDR 1,000 Cone

Setelah bulan Februari lalu bekerja sama dengan salah satu travel Bandung-Jakarta dalam bentuk penukaran karcis untuk kentang goreng atau es krim, McDonald’s Bandung melepas es krim Cone berharga Rp 1.000. Entah sejak kapan dimulai, saya mencicipi 14 Mei lalu.

Lanskap-Manusia

| No Comments | No TrackBacks

Selama di perjalanan Surabaya—Jember awal Juli lalu, saya sempatkan memotret beberapa spot di perjalanan. Salah satunya saat kereta melambat di stasiun kereta api Pasuruan. Saya merasa foto perempuan dan anak-anak di bawah panas terik siang hari “menjadi kecil” dibanding sekitarnya yang terlihat “gersang” dan penuh logam infrastruktur stasiun kereta api.

Dry and Brightfull

Pindahan

| 2 Comments | No TrackBacks

Last Day

Kantor kami pindah lokasi — lagi. Tentu saja, tiga bulan di tempat sebelumnya sangat pendek, namun karena demikian kemauan pemilik rumah — yaitu tidak memperpanjang sewa — kami harus berkemas dan pergi.

Bloger

| 1 Comment | No TrackBacks

Majalah Tempo edisi 8-14 Oktober menulis kata “bloger” untuk liputan Internet Vs Barikade Junta. Jika penggunaan kata tersebut menjadi pilihan tim penyunting Tempo, berarti sudah ada inisiatif penyerapan blogger menjadi bloger.

Jika nantinya disepakati, penyerapan ini akan mengurangi jumlah kata berhuruf miring karena masih berupa kata asing. Selama ini saya menyadari kesulitan mengganti blogger dengan “penulis blog” — karena tak semua blog dalam bentuk tulisan, “pengelola blog” atau “pemilik blog” — lebih umum namun kurang menggambarkan aktivitas yang dilakukan.

Ihwal Retorika

| 6 Comments | No TrackBacks

Optimisme memang tidak tumbuh secepat sebuah kampanye partai politik dilangsungkan, tidak juga selekas sebuah tabligh akbar usai. Kita maklum, yang dibicarakan selama dua perhelatan megah tadi adalah persoalan-persoalan yang berjarak dari situasi (bahkan lokasi) dan sesuatu yang “ingin dihindari dengan memalingkan muka darinya”. Keduanya penting menurut penggagasnya karena — salah satunya — untuk menumbuhkan optimisme, namun sering berbeda diterima hadirin, menjadi “sesuatu yang dikutuk secara massal” atau “sesuatu yang dilupakan sangat sejenak.”

Dan retorika itu, Tuan-tuan. Ingatan kita tentang cara bertanya secara retoris di alun-alun atau lapangan terbawa ke mana-mana. Para penulis menjadi kehilangan gairah untuk mengajak pembacanya berkontemplasi, merenungi keniscayaan hidup, keberkahan waktu dan ruang, kenikmatan hari ini, karena tulisan di media ranah publik terbawa gaya acara di alun-alun di atas.

Lapis Tengah

| 5 Comments | No TrackBacks

Saya cukup percaya bahwa saat ini negara kita Indonesia memerlukan lapis tengah jauh lebih penting dibanding lainnya. Lapis atas berisi para ahli dengan banyak konsep mereka, sehingga terkadang sedikit dicemooh oleh publik, Ah, itu kan hanya teori. Praktiknya lain… Sedangkan di lapis bawah yang berjumlah sangat banyak — seperti bentuk piramida — adalah masyarakat kebanyakan yang — seperti digambarkan Ki Hajar Dewantoro — tut wuri handayani, atau “mengikut”.

Siapa yang berada di “lapis tengah”? Menurut saya adalah mereka yang bekerja di lapangan, menggunakan konsep yang sudah disusun para ahli, melakukan sejumlah keputusan kerekayasaan atau manajerial, dan mengarahkan usahanya pada tujuan efektif yang dapat diterapkan. Sebagian disebut sebagai “agen perubahan”: baik pada perubahan dari tiada menjadi ada, atau dari kondisi stagnan menjadi bergerak dan tekun pada jalur tersebut. Lapis tengah ini memindahkan energi debat kusir kompetisi antarkonsep ke arah pemikiran cara yang implementatif agar pilihan yang diambil dapat beroperasi di lapangan. Misalnya: alih-alih berkerut memikirkan sejauh mana batas pengertian korupsi — yang acapkali menghasilkan tuduhan bernuansa paguyuban bahwa pemberantasan korupsi bersifat “tebang pilih”, lapis tengah lebih berorientasi mencari cara yang lebih realistis agar budaya korupsi sehari-hari mulai dikurangi.

Google Friend Connect

Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.

Recent Comments

  • Raffaell: Kalo liat gaya om ruhut kemaren di tipi, kayaknya dia read more
  • winy: kalau saya tergantung kesempatan dan ketersediaan sumber daya saja, maunya read more
  • komuter: okay, intinya kalem dulu….. . saya kalem kok read more
  • bsali adventure tour: wah akhirnya usahanya membawa hasil yach dapat lokasi yang baru read more
  • Daus: Saya termasuk yang masih “bersetia” dengan blog/blog foto, mungkin karena read more
  • elmogran: Kemarin sempat lewat waktu acara makan-makan di Dago Tea House. read more
  • RHuseinH: Saya rasa apa yang Cak Amal sampaikan mengenai tidak adanya read more
  • Nav Online: informasi yang menarik, Trims. read more
  • Surawan Tri Atmaja: Setuju …! Ibaratnya saat mati lampu (listrik maksudnya) dan keadaan read more
  • Derry Fauzi: yah itulah bangsa kita, bagus atau tidaknya tergantung dari sisi read more

Pages

  • About
  • Contact
OpenID accepted here Learn more about OpenID
Powered by Movable Type 4.261