Majalah Tempo edisi 8-14 Oktober menulis kata “bloger” untuk liputan Internet Vs Barikade Junta. Jika penggunaan kata tersebut menjadi pilihan tim penyunting Tempo, berarti sudah ada inisiatif penyerapan blogger menjadi bloger.
Jika nantinya disepakati, penyerapan ini akan mengurangi jumlah kata berhuruf miring karena masih berupa kata asing. Selama ini saya menyadari kesulitan mengganti blogger dengan “penulis blog” — karena tak semua blog dalam bentuk tulisan, “pengelola blog” atau “pemilik blog” — lebih umum namun kurang menggambarkan aktivitas yang dilakukan.
Bloger juga lebih enak diucapkan dibanding pemblog. Diskusi tentang perbedaan kedua kata itu mirip dengan prosesor atau pemroses untuk terjemahan processor. Pengubahan “gg” di tengah menjadi “g” (dari aslinya blogger) dugaan saya mengikuti kelaziman dalam bahasa Indonesia akan keberadaan dua konsonan yang dianggap tak perlu, namun bentuk “gg” memang belum dijumpai di buku EYD.
Apakah nyaman dibaca blo-ger, bukan blog-ger? Di Wikipedia pun tak dijelaskan alasan dari blog menjadi blogger dalam bahasa Inggris.
Apakah Tempo akan serius dan konsisten dengan penggunaan kata baru “bloger” terserbut? Ini yang masih tanda tanya. Karena di rubrik Teknologi Informasi masih sering muncul database atau software kendati kedua kata tersebut sudah lama memiliki padanan istilah dalam bahasa Indonesia. Termasuk kadang keteledoran menulis dalam huruf miring atau dibiarkan.

Saya rasa apa yang Cak Amal sampaikan mengenai tidak adanya penjelasan di WikiPedia mengenai blog (v.) menjadi blogger (n.) dalam Bahasa Inggris adalah wajar karena sudah merupakan kaidah umum Bahasa Inggris.
Sepengetahuan saya kata kerja yang berakhir dengan kombinasi vokal + konsonan blog, selalu konsonan (huruf terakhir) akan menjadi ganda sebelum ditambahkan akhiran er sehingga menjadi blogger.
Mohon dikoreksi jika saya salah.