Ik Kom Uit Indonesië

| No TrackBacks

Menceritakan hal-hal tentang Indonesia dari Belanda sebenarnya bukan sesuatu yang baru dan bukan pula hal yang aneh. Kecuali mereka yang tidak mau membaca sejarah, semua tahu periode kolonial Negeri Keju di Bumi Pertiwi sepanjang 3,5 abad. Namun demikian cerita-cerita di perjalanan, bertemu dengan orang biasa yang baru dikenal, dan kemudian membicarakan negeri kita dan dikaitkan dengan sejarah di masa lalu, tetaplah “mengejutkan”. Berbeda misalnya dengan penyebutan negeri kita pada forum resmi di pemerintahan atau hubungan bilateral organisasi. Barangkali faktor unsur sentuhan pribadi penyampainya yang menjadikan cerita seperti itu tetap menarik.

Hal itu yang pertama kali saya rasakan tatkala mendatangi kota Gouda. Karena ingin mengetahui alternatif jalan ke tempat tujuan, saya bertanya kepada seseorang setengah baya yang sedang berpayung. Mendengar pertanyaan saya dalam Bahasa Inggris, setelah kami berjalan beberapa puluh meter, dia ganti bertanya, “Anda berasal dari mana?” Setelah saya jawab dari Indonesia, dia langsung menimpali bahwa dia pernah tinggal di Malang pada tahun 1950-an. Tentu saja saya lengkapi bahwa tempat lahir saya, Jember, berjarak sekitar 200 km dari kota tersebut. Karena peristiwa ini pertama saya temui, tentu sangat mengesankan bahwa memang persinggungan sejarah tanah air saya dan negara ini akan banyak saya jumpai.

Setelah itu beberapa kali obrolan pendek dengan beberapa orang yang saya temui, entah kebetulan namun sering, berkaitan dengan keluarga mereka di Indonesia. Sopir taksi yang mengantar waktu acara pindah rumah beristeri dari Sumatera — setelah sebelumnya dia menyangka saya adalah pendatang dari Vietnam. Tukang yang datang untuk memperbaiki WC di rumah, lahir di Surabaya. Penyelia (supervisor) di tempat saya bekerja sebagai pekerja kebersihan (schoonmaker) juga beribu dan dilahirkan di Bandung. Umumnya yang saya sebut di atas adalah generasi tua yang memahami sejarah Belanda-Indonesia.

Waktu saya bersama rombongan datang di stasiun Den Haag, yang menghadap ke restoran Indonesia di sana, Garuda, mendengar kami berbicara ribut, seorang yang lewat menyapa, “Selamat datang. Dari Indonesia?” Demikian juga salah seorang sopir bis di Groningen yang setelah mendengar obrolan kami, menyapa, “Nanti turun di mana?”, dan seorang perempuan mengajak bicara sambil menunggu bis, “Kalian dari Indonesia? Bagaimana, dingin di sini?” Sopir bis dan perempuan yang saya contohkan ini memang orang Indonesia yang sudah menjadi warga negara Belanda, sehingga boleh dikatakan: kebetulan berjumpa dengan orang Indonesia yang sudah lama tinggal di Belanda.

Pengalaman-pengalaman ini sempat saya obrolkan dengan teman waktu kami sedang menikmati perjalan di sebuah pulau kecil tempat wisata di sebelah utara Groningen, Schiermonikoog. Sedikit kejutan: begitu melewati rombongan turis lain di sana pada saat sedang bercerita, mereka menyapa, “Selamat pagi.”

Dari semua peristiwa yang saya alami dan paling berkesan serta benar-benar kejutan, adalah waktu saya mengikuti rombongan mahasiswa RuG ke Warffum, sebuah kota kecil tidak jauh dari Groningen. Kami mengunjungi museum rumah tradisional peninggalan abad yang lalu. Rumah-rumah tersebut relatif lebih rendah dibanding ukuran rumah saat ini, menunjukkan bahwa tinggi penduduk Belanda di abad yang lalu juga tidak setinggi sekarang. Di bagian belakang museum milik kota tersebut, terdapat satu keluarga yang mendiami sebuah tempat tinggal di kompleks tersebut. Mereka berusia sudah lanjut dan dengan keadaan kota kecil yang jauh dari keramaian tersebut, terlihat bahwa mereka sudah tidak terlalu mengikuti perkembangan di dunia luar.

Acara yang diselenggarakan oleh kumpulan mahasiswa asing yang sedang menempuh pendidikan di RuG ini memang diikuti oleh hampir semua peserta yang tidak menguasai Bahasa Belanda. Alhasil, pada waktu melewati sepasang kakek-nenek tersebut, hampir semua peserta hanya mengucap singkat, “Hello” dan meninggalkan keduanya dengan senyum. Saya yang tertinggal di bagian belakang — jadi agak jauh dari pemandu wisata — mencoba menyapa lebih jauh dengan kakek. Bahasa Belanda yang saya kuasai waktu itu hanya bermodalkan “kursus terpaksa” sambil menyapu lantai di tempat kerja.

Saya mulai dengan menjelaskan bahwa kami datang dari universitas di Groningen dan umumnya tidak bisa berbahasa Belanda. Kedua orang tua itu memahami keadaan tersebut dan — barangkali setelah melihat cukup banyak wajah Asia di antara kami — menanyakan asal kami. Saya menjawab dari Indonesia dan kakek tersebut melanjutkan bahwa dia pernah bertugas di Indonesia pada tahun 1950-an dan sempat keliling di beberapa kota di Jawa Timur. Setelah saya sebutkan lebih rinci bahwa kota kelahiran saya adalah Jember, kakek tersebut masih sanggup menyebut nama kota ke arah Jember, yakni Surabaya dan Probolinggo. Benar-benar mengejutkan bagi saya saat itu yang berkomunikasi dengan bahasa terbatas di sebuah tempat yang jauh dari keramaian dengan seorang yang sudah lanjut usia! Luar biasa, sampai saya jelaskan tempat saya dilahirkan, sebuah kecamatan dari arah Kabupaten Jember ke Kabupaten Lumajang, dia pun masih ingat jalan yang menghubungkan Jember dan Lumajang. Pertemuan yang terjadi secara kebetulan dan sangat mengesankan.

Selain cerita di atas, perjumpaan saya dengan komunitas Suriname di daerah utara Belanda ini juga menjadi pengalaman tersendiri dan saya tuangkan pada perjalanan ke Masjid An Noer, Hoogezand. Yang jelas, modal dari pertemuan di atas adalah jawaban di awal, “Ik kom uit Indonesië” (saya berasal dari Indonesia).

No TrackBacks

TrackBack URL: http://mt4.atijembar.net/mt-tb.cgi/32

Google Friend Connect

About this Entry

This page contains a single entry by Ikhlasul Amal published on December 21, 2003 10:46 AM.

Hadiah Tuhan was the previous entry in this blog.

Ke Surga dengan Java is the next entry in this blog.

Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.

Pages

  • About
  • Contact
OpenID accepted here Learn more about OpenID
Powered by Movable Type 4.261