<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom">
    <title>Coret Moret Amal (Arsip)</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://coretmoret.web.id/" />
    <link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://coretmoret.web.id/atom.xml" />
    <id>tag:coretmoret.web.id,2009-07-06://1</id>
    <updated>2010-05-13T02:19:02Z</updated>
    <subtitle>Ruang yang lebih lapang untuk merangkai ungkapan</subtitle>
    <generator uri="http://www.sixapart.com/movabletype/">Movable Type 4.261</generator>

<entry>
    <title>Dari Mana Dapat Dimulai?</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://coretmoret.web.id/arc/2010/05/dari-mana-dimulai" />
    <id>tag:coretmoret.web.id,2010://1.659</id>

    <published>2010-05-13T01:34:14Z</published>
    <updated>2010-05-13T02:19:02Z</updated>

    <summary>Setelah menyadari kepentingan untuk melakukan hal yang lebih benar, pertanyaan yang kerap muncul: dari mana dapat dimulai? Persoalan begitu banyak dan berjalin berkelindan. Sudah berniat membuang sampah dengan benar, ternyata tempat sampah tidak tersedia. Hendak menyeberang, kelengkapan dasar jalan raya...</summary>
    <author>
        <name>Ikhlasul Amal</name>
        
    </author>
    
        <category term="Motivasi dan Sikap" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
    
    
    <content type="html" xml:lang="en" xml:base="http://coretmoret.web.id/">
        <![CDATA[<p>Setelah menyadari kepentingan untuk melakukan hal yang lebih benar,
pertanyaan yang kerap muncul: dari mana dapat dimulai?</p>

<p>Persoalan begitu banyak dan berjalin berkelindan. Sudah berniat
membuang sampah dengan benar, ternyata tempat sampah tidak
tersedia. Hendak menyeberang, kelengkapan
dasar jalan raya seperti marka jalan dan tempat penyeberangan tidak
ditemukan. Mengurus administrasi yang sangat mendasar
seperti <abbr title="Kartu Tanda Penduduk">KTP</abbr> pun sulit
mendapatkan prosedur yang baku.</p>

<p>Memang benar, dengan banyak persoalan mudah pula dipilih satu
hal untuk dibenahi. Dari bangun tidur hingga bersiap tidur kembali
semua ladang ibadah perbaikan keadaan, menurut sebagian dari
mereka. Kerjakan saja kebaikan, tidak perlu menjadi repot
memilih-milih. Hingga muncullah jargon, &#8220;mulai dari diri sendiri.&#8221;</p>
]]>
        <![CDATA[<p>Pendekatan ini mulai terlihat membosankan: efisiensinya rendah.
Seperti disebut oleh Iping Supriana, dosen Informatika <abbr
title="Institut Teknologi Bandung">ITB</abbr>, <q>Seperti melukis di
atas air: pekerjaan yang banyak dan menyibukkan, namun hasilnya
lenyap begitu saja, tak berbekas, terbawa air.</q> Kesulitan lainnya
adalah faktor kebosanan dan kesepian. Bosan mengulang hal yang berat
dan mempertimbangkan banyak hal. Hendak melakukan hal yang sederhana
pun perlu ditimbang-timbang mengingat belum tentu itu sederhana di
lapangan. <q>Benarkah bantuan saya sampai ke tujuan yang tepat?</q>,
adalah contoh pertimbangan penambah. Kesepian jika diingat mereka
yang berjuang keras &#8220;berbeda dengan kebanyakan orang&#8221; umumnya juga
pahlawan &#8220;seorang diri.&#8221;</p>

<p>Jadi bagaimana?</p>

<p>Tidak akan ditulis jawaban tunggal di sini, karena kondisi sangat
bervariasi, baik individu ybs. juga sekelilingnya. Yang terpikir
oleh saya: tetap perlu keseimbangan antara seorang penggagas yang
teguh hati, mau mendobrak, lepas dari kekeliruan berjamaah;
sedangkan di ujung sana, diperlukan sedikit teman dengan ide dan
semangat yang sebanding, untuk memulai perubahan ke arah lebih baik.</p>

<p>Tema pendobrakan dan pertemanan ini sederhana saja: pilih sesuatu
yang menarik dan dijadikan komitmen untuk dikerjakan. Tema tentang
disiplin lalu lintas, lingkungan, atau penghematan energi adalah
beberapa contoh yang dapat dipilih. Yang penting semua pihak dalam
pertemanan tsb. merasa menyukai pilihan mereka.</p>

<p>Seperti mendirikan jamaah baru sendiri? Tampaknya begitu, dengan
tujuan dapat saling mengingatkan dan menguatkan. Atas dasar itulah
komunitas kecil tumbuh beragam, setidaknya sekarang menjadi potensi
di Kota Bandung. Menumbuhkan semangat dimulai dari kelompok juga
relatif lebih mudah diterima publik dibanding kebanggaan diri
sendiri, yang potensial menjadi persoalan.</p>

<p>Sampai batas wajar, moderat, lewat cara ini dapat dimulai swadaya
kegiatan mandiri. Jika pengaruh organisasi kian menguat, bukan tidak
mungkin memiliki nilai tawar baik dan dapat mempengaruhi pengambil
keputusan.</p>

<p>Kendala akan selalu ada, antara lain pertentangan dalam kelompok
kecil itu sendiri. Ini wajar, risiko berserikat di mana-mana. Yang
penting visi kelompok tetap dipertahankan. Mengelola kelompok kecil
lebih mudah dan menyenangkan. Sebelum berpikir jika sudah besar
nantinya, nikmati dulu kebersamaan jamaah kecil tadi. Itu akan
membawa aura keriangan pada fase-fase berikutnya.</p>

<p>Anda punya saran lain untuk memulai?</p>
]]>
    </content>
</entry>

<entry>
    <title>Pelajaran Melawan Ketidakjujuran</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://coretmoret.web.id/arc/2010/05/melawan-ketidakjujuran" />
    <id>tag:coretmoret.web.id,2010://1.657</id>

    <published>2010-05-09T15:43:14Z</published>
    <updated>2010-05-09T15:53:11Z</updated>

    <summary>Kisah dari kelas tentang sikap anak-anak terhadap bocoran soal ujian.</summary>
    <author>
        <name>Ikhlasul Amal</name>
        
    </author>
    
        <category term="Motivasi dan Sikap" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
    
    
    <content type="html" xml:lang="en" xml:base="http://coretmoret.web.id/">
        <![CDATA[<p>Pak Guru di kelas membawa setumpuk soal latihan, dibagikan secara
tertutup di setiap meja siswa.  Soal Ilmu Pengetahuan Sosial. Bukan
bagian dari Ujian Nasional dan ini kelas Sekolah Dasar.  Penjelasan
Pak Guru menggetarkan, <q>Anak-anak, ini ada soal latihan <abbr title="Ilmu Pengetahuan Sosial">IPS</abbr>.
Dari tanggal yang ditulis di depan, ini adalah soal sesungguhnya
untuk ujian <abbr>IPS</abbr> nanti.</q> Semua terdiam, Pak Guru berhenti
sejenak.</p>

<p>&#8220;Soal sesungguhnya&#8221; barangkali lebih dapat dimengerti siswa
dibanding kata &#8220;bocoran&#8221; yang lebih sering dipakai di belantara
perkabaran.</p>

<p><q>Menurut kalian, akan diapakan lembar soal ini?,</q> demikian
pertanyaan Pak Guru, membuka pembicaraan lagi.</p>
]]>
        <![CDATA[<p>Secara spontan, entah dipicu oleh seseorang atau serentak, kelas
dipenuhi teriakan, <q>Bakar, Pak, bakar!</q></p>

<p>Tidak lama kemudian aksi bakar &#8220;soal sesungguhnya&#8221; atau bocoran
tersebut berlangsung. Ada yang masih mengintip soal, atau membaca
tulisan dari kertas yang telah hangus. Itu pun ditegus, <q>Loh,
jika memang sudah niat dibakar, kok masih dilihat?</q></p>

<p>Kejadian di Bandung, di bulan Mei ini, bulan pendidikan nasional.
Mengingatkan saya pada aksi semi-teatrikal menyobek buku di film
legendaris <a href="http://www.imdb.com/title/tt0097165/"><cite>Dead Poets Society</cite></a>. Jika di film aksi
penyobekan dikaitkan dengan pemberontakan terhadap nilai-nilai lama
dan membebaskan ekspresi terhadap nilai baru &#8212; setidaknya itu yang
saya tangkap, di sekolah di Bandung adalah reaksi spontan siswa
menghadapi ketidakjujuran.</p>

<p>Tidak terlalu penting memahami kondisi mereka sebelumnya &#8212; apakah
sudah sampai pada nilai &#8220;suci&#8221;, yang lebih penting spontanitas
untuk menolak ketidakjujuran sebagai nilai suci dan itu harus
dikerjakan. Tidak cukup hanya ogah kecurangan dan berdoa, namun tangan
bertindak jika mampu. Hal itu diekspresikan dengan pembakaran.
Spontanitas itu pula sisi seberang, ekstrem, dari ketidakjujuran.</p>

<p>Terlalu muluk juga ekspresi di kelas ini dikaitkan dengan
kepahlawanan, karena selain gagasan tersebut mulia, berderajat
tinggi, seharusnya sikap sederhana untuk tetap jujur adalah
keseharian. Bukan seremonial dan tidak perlu harus dikerjakan oleh
pahlawan. Sebaliknya, tindakan tersebut membanggakan, pantas
disyukuri, karena dilakukan oleh warga biasa, siswa di kelas, tanpa
metafor kepahlawanan.</p>

<p>Bakar. Dobrak. Robohkan! <br />
Yaitu terhadap gagasan lancung, gelagat curang, dan sikap tidak
jujur.</p>
]]>
    </content>
</entry>

<entry>
    <title>Format Lebar</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://coretmoret.web.id/arc/2010/05/format-lebar" />
    <id>tag:coretmoret.web.id,2010://1.654</id>

    <published>2010-05-04T15:57:45Z</published>
    <updated>2010-05-04T17:01:22Z</updated>

    <summary>Pada mulanya saya memilih perbandingan ukuran lebar di kamera saku untuk memotret panorama. Ini lazim jika diingat di depan bentang yang sangat indah, kita ingin merekam keindahan &#8220;selebar&#8221; mungkin, ketinggian dapat dikompromikan. Bahkan moda penyambungan (&#8220;stitch&#8221;) pernah saya coba walaupun...</summary>
    <author>
        <name>Ikhlasul Amal</name>
        
    </author>
    
        <category term="Foto" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
    
    
    <content type="html" xml:lang="en" xml:base="http://coretmoret.web.id/">
        <![CDATA[<p>Pada mulanya saya memilih perbandingan ukuran lebar di kamera saku
untuk memotret panorama. Ini lazim jika diingat di depan bentang
yang sangat indah, kita ingin merekam keindahan &#8220;selebar&#8221; mungkin,
ketinggian dapat dikompromikan. Bahkan moda penyambungan (&#8220;stitch&#8221;)
pernah saya coba walaupun memang perlu ketepatan di bagian
penyambungan secara khusus.</p>

<p><a href="http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/2484607801/" title="Handcraft Stitch by Ikhlasul Amal, on Flickr"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2283/2484607801_5b5473b1b0.jpg" width="500" height="141" alt="Handcraft Stitch" /></a></p>
]]>
        <![CDATA[<p>Namun belakangan ini, saya tambah menikmati ukuran lebar untuk
banyak hal di sekitar. Kamera saku yang memang saya bawa-bawa untuk
keperluan sehari-hari saya setel untuk ukuran &#8220;Wide.&#8221; Karena sudah
cukup sering, rasio lebar itu lebih terasa enak di layar kamera pun
setelah ditampilkan di halaman web. Termasuk saat dipajang di
Flickr.</p>

<p><a href="http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/4578302235/" title="Wide Format in Thumbnails by Ikhlasul Amal, on Flickr"><img src="http://farm5.static.flickr.com/4011/4578302235_47b4eb080d.jpg" width="500" height="362" alt="Wide Format in Thumbnails" /></a></p>

<p>Bukan berlebihan juga untuk merekam kaki langit hingga awan di atas,
seukuran sudut tengadah kita, ukuran lebar ini pun tetap enak
digunakan secara portrait.</p>

<p><a href="http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/4270721992/" title="The Probability of Having Sun or Rain Today by Ikhlasul Amal, on Flickr"><img src="http://farm5.static.flickr.com/4027/4270721992_05a9389cd3.jpg" width="281" height="500" alt="The Probability of Having Sun or Rain Today" /></a></p>

<p>Tidak heran jika kebiasaan juga yang melekat pada seseorang
sehingga saya baca julukan &#8220;master of square&#8221; untuk pemotret yang
terbiasa dengan format bujursangkar dari film seluloid. <a href="http://wnugroho.org">Widianto
Nugroho</a> pernah menyebut alternatif tema yang menarik jika ingin
berpameran: kedekatan pemotret dengan alat, yaitu kamera.</p>

<p>Soalnya setiap hari dijinjing, diajak ikut.</p>
]]>
    </content>
</entry>

<entry>
    <title>Tanda-tanda Kecil Kiamat</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://coretmoret.web.id/arc/2010/03/tanda-kiamat" />
    <id>tag:coretmoret.web.id,2010://1.642</id>

    <published>2010-03-07T01:13:02Z</published>
    <updated>2010-03-09T01:41:43Z</updated>

    <summary>Seingat saya, pada awalnya dari buku Tanbihul Ghafilin (Peringatan Bagi Yang Lupa), keterangan tentang tanda-tanda kiamat saya baca. Tanda-tanda tersebut dibagi dua: tanda kecil (sugra) dan tanda besar (kubra). Abu Laits as Samarqandi, penulis buku, tidak memberikan keterangan dikaitkan dengan...</summary>
    <author>
        <name>Ikhlasul Amal</name>
        
    </author>
    
        <category term="Motivasi dan Sikap" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
    
        <category term="Permenungan" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
    
    
    <content type="html" xml:lang="en" xml:base="http://coretmoret.web.id/">
        <![CDATA[<p>Seingat saya, pada awalnya dari buku <cite>Tanbihul Ghafilin</cite> (<cite>Peringatan Bagi Yang Lupa</cite>), keterangan tentang tanda-tanda kiamat saya baca. Tanda-tanda tersebut dibagi dua: tanda kecil (<i>sugra</i>) dan tanda besar (<i>kubra</i>). Abu Laits as Samarqandi, penulis buku, tidak memberikan keterangan dikaitkan dengan kondisi saat ini &#8212; lagipula buku tersebut sudah lama ditulis, termasuk literatur klasik. Setelah itu saya lebih sering mendengar tanda-tanda kiamat disebut lewat pengajian atau khotbah. Biasanya khatib menyebut relevansi dalil-dalil tersebut dengan keadaan saat ini, yakni dikaitkan dengan tanda-tanda kecil kiamat. Walaupun tanda-tanda yang disebutkan oleh para khatib tersebut tidak sama persis (dan juga tidak berbeda total), persamaannya adalah ihwal kemerosotan akhlak masyarakat. Tentu saya maklumi dengan sepenuh hati urusan akhlak menjadi prioritas para khatib.</p>

<p>Ada khatib yang menimpali &#8212; biasanya pada sesi tanya-jawab &#8212; bahwa tentulah kiamat lebih dekat, dibanding pada masa Rasulullah menyebut hadits yang bersangkutan. Ini mirip dengan metafora bahwa mereka yang berulang tahun sebenarnya jatah hidupnya berkurang setahun.</p>

<p>Sekarang bagaimana dengan isi dalam tanda-tanda kecil itu sendiri? Ini yang acapkali menggelitik saya.</p>
]]>
        <![CDATA[<p>Pertama, <strong>saya mengaitkan dengan ilmu kependudukan atau demografi</strong>. Sependek yang saya fahami, dengan pertambahan manusia, kompleksitas yang diakibatkan juga meningkat tajam. Ini cukup gamblang, bahkan terlihat pada penambahan benda mati yang harus dikelola, jumlah kendaraan misalnya. Jika satu kendaraan memerlukan sebuah onderdil, dua kendaraan memerlukan dua unit onderdil, pada jumlah tertentu &#8212; misalnya sepuluh kendaraan &#8212; diperlukan profesi baru, yaitu pengelola ketersediaan onderdil. Dengan kias ini, lebih-lebih untuk manusia, dengan perilaku yang jelas lebih kompleks.</p>

<p>Pertumbuhan jumlah manusia luar biasa pesat: perbaikan tingkat kesehatan dan perubahan cara perang &#8212; dua hal yang disebut Thomas Robert Malthus <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Thomas_Malthus#The_Principle_of_Population">&#8220;mengendalikan&#8221; jumlah penduduk</a> &#8212; membantu akselerasi jumlah penduduk bumi. Bencana alam memang tidak terelakkan, namun menjadi tidak signifikan dibanding angka kelahiran. Pertumbuhan ini akan menimbulkan peluang dan persoalan baru, ditambah lagi faktor sebaran yang juga bervariasi, baik dari sisi piramida usia, juga berdasarkan wilayah.</p>

<p>Salah satu persoalan yang muncul adalah penurunan kualitas hidup, baik kualitas keperluan jasmani, dan sangat mungkin berlanjut ke aspek ruhani. Ringkasnya, penurunan kualitas hidup ini salah satu penyebab kemerosotan akhlak. Ahli demografi dapat menjelaskan hal ini dengan lebih baik, termasuk menyodorkan pemodelan yang relevan.</p>

<p>Kedua, <strong>kaitan dengan statistik</strong>. Sering khatib menjelaskan terjadi peningkatan kebobrokan moral di masyarakat, namun belum sampai pada cacah peningkatan. Apakah jumlah kejahatan yang terjadi saat ini memang lebih banyak atau sebenarnya tetap dibanding periode yang lalu. Termasuk penilaian kualitas kebobrokan itu sendiri. Terkait dengan isu jumlah penduduk pada pemikiran pertama, akan penting mengaitkan dengan jumlah penduduk dalam bentuk persentase. Jadi misalnya, dari sisi statistik, cacah jumlah maksiat dalam sebuah populasi meningkat, namun sebenarnya secara persentase tetap. Rujukan persentase dapat diambil dari jumlah penduduk atau rentang waktu, karena pengertian &#8220;masa lalu&#8221; dan &#8220;masa kini&#8221; perlu dipertegas juga.</p>

<p>Apakah hal ini mengurangi makna &#8220;tanda-tanda kecil kedatangan kiamat&#8221;?</p>

<p>Hari akhir atau kiamat termasuk rukun iman dalam Islam, dengan demikian berada pada domain keyakinan. Mempertimbangkan aspek demografi dan statistik di belakangnya bukan bertendensi mengurangi bagian tersebut, melainkan justru memberi pemaknaan yang lebih baik terhadap cara memotivasi umat. Dengan memaparkan potensi risiko yang timbul dari penambahan jumlah penduduk, umat dapat diajak berpikir mengupayakan cara agar peningkatan kemerosotan akhlak yang dikhawatirkan khatib dapat dikurangi. Pada giliran berikutnya, tentulah sebuah kualitas kehidupan yang lebih baik, karena semua khatib yang memaparkan soal kemerosotan akhlak senantiasa menutup khotbahnya dengan mengajak jamaah berdoa bersama, menghindari hal yang tidak diinginkan tersebut. Bagaimana agar yang mengendap di kepala jamaah bukan hanya doa, melainkan sebuah wacana yang lebih lengkap?</p>

<p>Hal yang lain, menjadi perenungan &#8212; setidaknya buat saya &#8212; apakah memang tanda-tanda yang disebut di dalil naqli tentang kemerosotan akhlak tersebut sebenarnya metafor terhadap risiko jumlah manusia yang luar biasa dan tekanan kita terhadap daya dukung bumi? Atau sebuah keadaan lain lagi yang sama sekali berbeda &#8212; yang berarti tidak dapat dikaitkan langsung dengan keadaan sekarang? Begitu pula, tinjauan sekilas dari sisi demografi dan statistik di atas semata-mata yang terpikir sebagai model di kepala saya. Sangat mungkin Anda memiliki pemikiran lain yang berbeda. </p>

<p><i>Wallahualam bisshowab</i>.</p>

<p>Saya komentari terlebih dulu: apapun kaitan dengan segenap perenungan dan pemikiran di atas, ajakan untuk senantiasa menjalankan akhlak yang baik dan berwasiat terhadap sesama tetap sebuah amal ibadah setiap masa. Tidak tergantung dengan waktu kedatangan kiamat yang memang tidak ada seorang pun yang tahu.</p>

<p><i>Ittaqullah, ittaqullah, haqqa tuqaatih</i>&#8230;</p>
]]>
    </content>
</entry>

<entry>
    <title>Komunikasi yang Tidak Lancar</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://coretmoret.web.id/arc/2010/01/komunikasi" />
    <id>tag:coretmoret.web.id,2010://1.634</id>

    <published>2010-01-20T00:30:29Z</published>
    <updated>2010-01-20T06:02:22Z</updated>

    <summary>Tercetuslah pada beberapa kali kasus kesalahpahaman atau konflik bahwa persoalan tersebut mencuat semata-mata, &#8220;karena komunikasi yang tidak lancar.&#8221; Miskomunikasi, dari miscommunication. Ada benarnya: kekeliruan memahami gaya pihak lain, media penghubung, suasana percakapan, adalah sedikit dari contoh faktor kemungkinan kegagalan berkomunikasi....</summary>
    <author>
        <name>Ikhlasul Amal</name>
        
    </author>
    
        <category term="Motivasi dan Sikap" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
    
    
    <content type="html" xml:lang="en" xml:base="http://coretmoret.web.id/">
        <![CDATA[<p>Tercetuslah pada beberapa kali kasus kesalahpahaman atau konflik
bahwa persoalan tersebut mencuat semata-mata, &#8220;karena komunikasi
yang tidak lancar.&#8221; Miskomunikasi, dari <i>miscommunication</i>.</p>

<p>Ada benarnya: kekeliruan memahami gaya pihak lain, media penghubung,
suasana percakapan, adalah sedikit dari contoh faktor kemungkinan
kegagalan berkomunikasi. Perbaikan dapat dilakukan dengan
menghubungkan lagi pihak-pihak terkait lewat media baru atau
penjelasan yang cukup. Relatif mudah, karena yang ditangani soal
teknik berkomunikasi.</p>
]]>
        <![CDATA[<p>Namun diagnosis bahwa sebuah kasus terjadi gara-gara komunikasi
tidak lancar adakalanya perlu ditelisik lebih jauh. Jangan-jangan
penyederhanaan (dan &#8220;penudingan&#8221;) bahwa komunikasi biang kerok
masalah tidak tepat. Apalagi jika penjelasan komunikasi ini
sebenarnya semacam lapis permukaan, masih mentah, atau penghalusan
dari persoalan yang lebih mendasar.</p>

<p>Pertama, tidak layak komunikasi dijadikan kambing hitam yang kerap
kali baru merupakan bagian teknis atau puncak dari gunung persoalan.
Hal ini biasanya terlihat pada langkah berikutnya: setelah
diupayakan cara berkomunikasi yang lebih baik pun, ada pihak yang
menolak perbaikan tersebut. Penolakan tersebut mungkin disampaikan
secara eksplisit berupa keengganan berkomunikasi dengan cara baru
tersebut, atau penolakan terhadap itikad pihak lain. Alhasil,
kendati sudah disodori bahan-bahan yang sudah lebih baik, tetap saja
dianggap tidak memadai. Ringkasnya: semua serba salah atau serba
kurang.</p>

<p>Jika demikian, di mana persoalan di luar komunikasi tak lancar tadi?</p>

<p>Dari sisi personal, perilaku pihak-pihak yang terkait. Apapun gaya komunikasi
mereka, jika masih sulit untuk terbuka terhadap pihak lain, rasanya
akan perlu waktu untuk terlebih dulu mempersiapkan ybs. Di sini
pentingnya pendidikan akhlak, budi pekerti. Bukan berarti keadaan
tersebut harga mati yang tidak dapat diubah, melainkan diperlukan
waktu yang cukup untuk perubahan ke arah lebih baik.</p>

<p>Akan halnya di sisi manajemen (barangkali dikenal dengan istilah
&#8220;manajemen konflik&#8221;?) perlu pengarahan agar domain masalah yang
dihadapi cocok dengan pihak-pihak yang berkait. Tidak semua anggota
pihak-pihak tersebut harus diajak berembug menyelesaikan masalah,
sebaiknya cukup perwakilan yang cakap dan peduli. Manajemen
bertindak dari persiapan penyelesaian masalah, pelaksanaan
penyelesaiannya, dan pasca-penyelesaian. Termasuk bagian akhir
adalah persiapan jika mufakat gagal dicapai, berupa kesepakatan
untuk berbeda arah namun tetap saling menghormati.</p>

<p>Demikianlah, cukup panjang dan terlalu bervariasi untuk
disederhanakan sekadar, &#8220;komunikasi yang gagal&#8221; atau &#8220;komunikasi
tidak lancar.&#8221; Komunikasi tentulah harus dijaga baik, ada atau tiada
persoalan.</p>
]]>
    </content>
</entry>

<entry>
    <title>Ziarah Nostalgia</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://coretmoret.web.id/arc/2009/09/ziarah-nostalgia" />
    <id>tag:coretmoret.web.id,2009://1.631</id>

    <published>2009-09-12T00:38:00Z</published>
    <updated>2009-09-12T00:47:03Z</updated>

    <summary>Menjenguk tempat yang dikaitkan dengan masa lalu sering menorehkan catatan tersendiri. Pulang kampung, mudik lebaran, ziarah nostalgia, atau benar-benar fungsional berlibur di tanah air buat perantau di negara lain. Kendati penamaan dan peristiwa faktualnya sebenarnya berhubungan dengan tempat, namun aspek...</summary>
    <author>
        <name>Ikhlasul Amal</name>
        
    </author>
    
        <category term="Motivasi dan Sikap" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
    
    
    <content type="html" xml:lang="en" xml:base="http://coretmoret.web.id/">
        <![CDATA[<p>Menjenguk tempat yang dikaitkan dengan masa lalu sering menorehkan
catatan tersendiri. Pulang kampung, mudik lebaran, ziarah nostalgia,
atau benar-benar fungsional berlibur di tanah air buat perantau di
negara lain. Kendati penamaan dan peristiwa faktualnya sebenarnya
berhubungan dengan tempat, namun aspek waktu &#8220;ke belakang&#8221; lebih
dominan. Berbeda dengan perjalanan dinas yang sangat sedikit &#8212; atau
malah tiada &#8212; memiliki kaitan masa silam, ziarah nostalgia sarat
dengan pembandingan, satu sisi berisi gurat-gurat kenangan dan sisi
yang lain realita sekarang. Keduanya seolah muncul bak dua kolom
tabel yang siap dikomentari per item.</p>
]]>
        <![CDATA[<h2>Sadari bahwa waktu berjalan</h2>

<p>Waktu tidak dapat dihentikan, ia akan terus berjalan membawa
perubahan. Tak terelakkan. Alhasil, siapapun yang tinggal di sebuah
tempat niscaya terbawa oleh perubanan. Perbedaannya tipis: mereka
yang memang berada di dalam sistem tersebut dapat merasakan
perubahan secara rinci dan bertahap, sedangkan mereka yang di luar
hanya memperoleh gambaran global dan melompat. Jeda rentang waktu
cukup lama untuk si penjenguk kerap memunculkan perbandingan dengan
masa lalu &#8212; yang sebenarnya sudah tidak relevan:</p>

<blockquote>
  <p>Bandung sekarang panas, ya? <br />
<i>Iyalah, dbandung dulu; kalau dibanding kota-kota   lain?</i></p>

<p>Payah nih Indonesia, sekarang macet di mana-mana. <br />
<i>Jelaslah, penduduk Indonesia bertambah sekitar 100 juta sejak Soneta mengeluarkan album 135 juta penduduk Indonesia dan Wak Haji Rhoma masih segar-bugar.</i></p>
</blockquote>

<h2>Amati bagian positifnya</h2>

<p>Seperti sering didengungkan, <i>no news is a good news</i>, bagian
yang bermasalah terlihat lebih dulu, lebih gamblang, dibanding
bagian baik <em>yang sebenarnya lebih banyak</em>. Perubahan jelas terjadi,
jumlah manusia pun bertambah, keinsyafan akan &#8220;kondisi sesuai
masanya&#8221; tentu diperlukan.</p>

<p>Saya ingat seorang alumni perguruan tinggi suatu sore berkunjung ke
kampus dan berkomentar kepada kolega di sebelahnya, <q>Mahasiswa
sekarang sudah tidak seperti dulu lagi&#8230;</q> dikuti sejumlah
keberatan menurut sudut pandangnya. Walapun hal ini komentar ringan
&#8212; dan tanpa pretensi ofensif, tetap saja seperti tidak nyaman
didengar pihak yang dikomentari, seperti halnya tidak nyaman juga
mendengar klaim teman-teman di kampus terhadap mereka yang sudah
berkiprah di lapangan. Padahal keduanya mempermasalahkan hal-hal
yang sangat sepintas dan memang relevan dengan era masing-masing.</p>

<p>Jika ingin membicarakan bagian yang dianggap bermasalah tersebut,
lebih enak dan tepat sasaran dengan cara membuka dialog dengan
mereka yang memang tinggal di lokasi tersebut. Sekaligus
menghindari kecelakaan kebakaran jenggot atau pahlawan kesiangan.</p>

<h2>Intinya kalem dulu</h2>

<p>Bagaimanapun pengamat dan komentator adalah &#8220;pihak luar&#8221; dan mereka
yang berkecimpung, yang bekerja, lebih tahu persis, persoalan aktual
di tempat tersebut. Komentar seperti apapun perlu dimulai dengan
kalem, sambil mengumpulkan masukan dari mereka para pelaku.</p>

<p>Sekaligus belajar agar selain hal-hal romantik, rasionalitas tetap
perlu diperhatikan, termasuk pada acara <i>klangenan</i> berziarah
nostalgia.</p>
]]>
    </content>
</entry>

<entry>
    <title>Menekuni yang Lama, Melanjutkan dengan yang Baru</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://coretmoret.web.id/arc/2009/08/menekuni-yang-lama" />
    <id>tag:coretmoret.web.id,2009://1.627</id>

    <published>2009-08-01T07:10:29Z</published>
    <updated>2009-08-01T08:10:20Z</updated>

    <summary>Perlu ada sesuatu yang ditekuni dalam hidup, kendati di ujung nanti beragam hasil. Dengan pertimbangan tersebut salah satunya, saya ingin menekuni bekal yang sudah saya miliki di masa lalu dan melanjutkan dengan banyak hal menarik sekarang ini atau mendatang.</summary>
    <author>
        <name>Ikhlasul Amal</name>
        
    </author>
    
        <category term="Maklumat" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
    
        <category term="Motivasi dan Sikap" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
    
    
    <content type="html" xml:lang="en" xml:base="http://coretmoret.web.id/">
        <![CDATA[<p>Bulan Juli yang telah lewat berisi hal-hal patut disyukuri. Saya
bertemu dengan sobat-sobat teman lama yang mengenal saya sebagai
narablog, mengobrol dan memberi motivasi kepada teman-teman baru.
Ringkasnya: bersinggungan lagi dengan era lama. Memang terbersit
perasaan khawatir: dapatkah saya cukup konsisten menyelami lagi
&#8220;dunia lama&#8221; tersebut, sebagai penulis blog? Sementara aneka ragam
permainan baru bertebaran dan memikat di Ranah&nbsp;2.0. Sumber daya saya
tetap atau terbatas, sedangkan pernik yang ditangani bertambah. Jika
tak cakap mengelola, aktivitas tersebut dapat terbengkalai menjadi
kegiatan sesaat.</p>

<p>Blog-foto telah saya jelajahi di Flickr dan komunitasnya. Tentu ini
bukan representasi menyeluruh tentang <i>photoblogging</i> di
Indonesia. Saya sendiri merasa seperti &#8220;sok bergaya&#8221; memajang foto
di Flickr kemudian beranggapan sebagai <i>photoblogger</i>. Jangan
khawatir: saya termasuk yang memasang definisi longgar untuk
kegiatan blog. Semua orang berpotensi untuk ikut di dunia blog dan
banyak cara menyajikan ide kita. Ini cerita panjang dan biasanya
sudah disajikan di acara-acara perbincangan dengan narablog.</p>
]]>
        <![CDATA[<p>Blog-mikro pun menjadi marak. Pengulangan 140&nbsp;karakter untuk
menggerakkan massa kerap memudahkan mereka yang sibuk. Dengan
pembatasan jumlah huruf, ungkapan yang bersuasana semi-provokatif
atau mengundang penasaran menjadi candu. <a href="http://jonru.net">Jonru
Ginting</a> sempat
menulis sentilan di Notes Facebook akan kemungkinan para narablog
kecanduan blog-mikro dan status Facebook, sehingga atmosfir blog
negeri ini tampak lesu. Padahal belum tentu demikian, menurut saya.</p>

<p>Pertemuan saya dengan Diki Andeas di Taman Hutan Raya Juanda
memunculkan inspirasi <a href="http://chickenstrip.wordpress.com/2009/07/06/chickenstrip-145-priyadingistis/">komik sableng gejala
Priyadingistis</a>.
Istilah tersebut &#8212; kendati saya salah sebut &#8212; sudah saya baca
sehari sebelumnya di salah satu tulisan di Facebook. Keputusan Diki
menyerahkan banyak urusan dapur komiknya ke jasa gratisan menarik
dipelajari: komik tetap jalan dan kapasitasnya sebagai salah satu
pemrogram Ruby di rimba industri <abbr title="Teknologi
Informasi">TI</abbr>
Bandung-Cimahi kian kemilau bak batu akik.</p>

<p>Layanan gratis? Betul, salah satu fenomena kebangkitan kembali
pengguna layanan gratis tidak ada kaitan dengan isu lama
kredibilitas atau kantong kere. Sebaliknya, keandalan dan
kepraktisan tinjauan utama. Barangkali Budi Rahardjo sudah sejak
lama menyadarinya, pengakuan Diki merupakan kesimpulan penting:
semakin tidak ada kesempatan untuk patroli tempat <i>hosting</i>
sendiri.</p>

<p>Memang sering menjadi melelahkan: para penasihat keamanan Web
berteriak lantang agar setiap ada penambalan perangkat lunak segera
dipasang. Itu berarti sekian langkah cara penambalan harus diikuti.
Termasuk ancaman terlihat-sepele-namun-ditanggung-sendiri: buat dulu
salinan sistemmu. Waktu yang kian sempit untuk pasangan hidup,
sedangkan hidup yang paripurna tidak hanya di Net.</p>

<p>Sedikit atau banyak hal-hal tersebut menginspirasi saya. Diawali
dengan keputusan: pertikaian filosofis Movable Type atau WordPress harus
dihentikan.  Hal-hal emosional yang menyertai pilihan tersebut
diakhiri: Movable Type tetap digunakan. Disertai tambahan: jangan
bermimpi menjadi perancang situs Web, sekalipun memahami <abbr title="Cascading Style Sheets">CSS</abbr>.
Saya sudah faham sejak awal: merancang situs Web lebih transendental
dibanding memahami spesifikasi <abbr>XHTML</abbr>/<abbr>CSS</abbr>.</p>

<p>Hasilnya: kembali ke tampilan sederhana dan pilih yang paling mudah.
Termasuk biarkan aneka navigasi dalam bahasa Inggris, sesuatu yang
dulu harus saya ubah menjadi berbahasa Indonesia. Toh, pengunjung
situs saya bukan datang untuk melihat desain elegan; sihir kata-kata
lebih menjanjikan untuk saya pelajari.</p>

<p>Perlu ada sesuatu yang ditekuni dalam hidup, kendati di ujung
nanti beragam hasil. Dengan pertimbangan tersebut salah satunya,
saya ingin menekuni bekal yang sudah saya miliki di masa lalu dan
melanjutkan dengan banyak hal menarik sekarang ini atau mendatang.</p>

<p>Terima kasih semua.</p>
]]>
    </content>
</entry>

<entry>
    <title>Rp 1.000</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://coretmoret.web.id/arc/2009/05/1000" />
    <id>tag:coretmoret.web.id,2009://1.625</id>

    <published>2009-05-17T03:50:43Z</published>
    <updated>2009-05-17T04:27:00Z</updated>

    <summary>Es krim Cone Rp 1.000 dengan kualitas dan promosi.</summary>
    <author>
        <name>Ikhlasul Amal</name>
        
    </author>
    
        <category term="Foto" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
    
    
    <content type="html" xml:lang="en" xml:base="http://coretmoret.web.id/">
        <![CDATA[<p><a href="http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/3531246140/" title="IDR 1,000 Cone by Ikhlasul Amal, on Flickr"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2165/3531246140_2237207cb9.jpg" width="375" height="500" alt="IDR 1,000 Cone" /></a></p>

<p>Setelah bulan Februari lalu bekerja sama dengan salah satu travel Bandung-Jakarta dalam bentuk penukaran karcis untuk kentang goreng atau es krim, McDonald&#8217;s Bandung melepas es krim Cone berharga Rp 1.000. Entah sejak kapan dimulai, saya mencicipi 14 Mei lalu.</p>
]]>
        <![CDATA[<p>Dari sisi gerai makanan sejenis, Starbucks dikabarkan menyediakan edisi &#8220;bumi hijau&#8221; berupa potongan hingga 50% untuk pembeli yang membawa mug sendiri. Sebelumnya mereka juga menyediakan kopi cuma-cuma untuk pemilih di pemilihan umum calon legislatif 2009.</p>

<p>Seribu rupiah untuk es krim (ditambah pajak 10%, menjadi Rp&nbsp;1.100) sama dengan ongkos parkir sepeda motor. Harga tersebut juga lebih murah dibanding es potong yang dijajakan dengan gerobak masuk-keluar gang di Bandung. Dengan perbandingan kualitas bahan yang digunakan, Cone lebih unggul.</p>

<p>Karena berkait dengan merk gerai-gerai dari mancanegara, ada yang menengarai hal ini termasuk dalam terobosan melewati krisis finansial sekarang. Entah, yang jelas memang promosi satu jenis, karena harga item lain relatif tetap.</p>

<p>Dengan membeli Cone &#8212; barangkali &#8212; diharapkan tergoda menambahi dengan paket lain.</p>
]]>
    </content>
</entry>

<entry>
    <title>Lanskap-Manusia</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://coretmoret.web.id/arc/2008/09/lanskapmanusia" />
    <id>tag:coretmoret.web.id,2008://1.617</id>

    <published>2008-09-25T00:29:53Z</published>
    <updated>2008-10-12T16:22:44Z</updated>

    <summary>Interaksi lanskap-manusia yang menghilangkan dominasi antara lanskap bentang alam dan manusia.</summary>
    <author>
        <name>Ikhlasul Amal</name>
        
    </author>
    
        <category term="Foto" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
    
        <category term="Reportase" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
    
    
    <content type="html" xml:lang="en" xml:base="http://coretmoret.web.id/">
        <![CDATA[<p>Selama di perjalanan Surabaya&#8212;Jember awal Juli lalu, saya sempatkan
memotret <a href="http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/archives/date-taken/2008/07/03/">beberapa spot di perjalanan</a>. Salah satunya saat kereta
melambat di stasiun kereta api Pasuruan. Saya merasa foto perempuan
dan anak-anak di bawah panas terik siang hari &#8220;menjadi kecil&#8221;
dibanding sekitarnya yang terlihat &#8220;gersang&#8221; dan penuh logam
infrastruktur stasiun kereta api.</p>

<p><a href="http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/2645788659/" title="Dry and Brightfull by Ikhlasul Amal, on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3072/2645788659_04d31fd3a5.jpg" width="500" height="375" alt="Dry and Brightfull" /></a></p>
]]>
        <![CDATA[<p>Ternyata hal ini diamati oleh <a href="http://budisukmana.com">Budi
Sukmana</a>, salah satu teman Flickr di Bandung
yang banyak menyemangati saya untuk terus memotret, dan komentarnya
lewat percakapan di GTalk,</p>

<blockquote>
<p>Ada interaksi antara objek lingkungan sekitar dgn manusia.</p>
<p>Komposisi manusianya jauh lebih kecil dari lingkungannya.
Menarik</p>
</blockquote>

<p>Lebih lanjut, Budi memberikan tautan tulisan tentang sudut pandang
berbeda antara manusia dan lingkungan, disebut <i>peopled
landscapes</i>. Oleh Michael David Murphy <a href="http://2point8.whileseated.org/2007/04/27/peopled-landscapes/">diuraikan sebagai</a>,</p>

<blockquote>
<p>
Lanskap kota dan orang-orang di dalamnya akan menghasilkan kombinasi
yang menghasilkan sebuah gambaran yang baru sama sekali, berupa tak
ada yang mendominasi.
</p>
</blockquote>

<p>Contoh-contoh foto di tulisan Michael lebih memudahkan pemahaman
akan &#8220;lanskap manusia&#8221; ini. Dia juga menekankan bahwa &#8220;lanskap&#8221; di
sini tak harus berupa jalanan, dikaitkan dengan pandangan sebelumnya
tentang &#8220;fotografi jalanan&#8221; (<i>street photography</i>).</p>

<p>Lanskap-manusia menjadikan manusia &#8220;lebih mini&#8221;, menjauhi rinci
tentang ekspresi manusia terhadap sekelilingnya &#8212; yang sering
muncul di fotografi jalanan. Budi Sukmana menyarankan agar saya
mencobanya <a href="http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/sets/72157603034863852/">di sekitar Sekolah Alam
Bandung</a>,
yang memang sering dijadikan obyek fotografi saya.</p>

<p>Tambahan catatan Budi terhadap foto saya dapat dilihat dari foto
yang diambil di taman di Bukit Dago berikut.</p>

<p><a href="http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/2623762479/" title="Enjoy Living by Ikhlasul Amal, on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3099/2623762479_508bb8eb3f.jpg" width="500" height="375" alt="Enjoy Living" /></a></p>

<p>Saya masih mencoba: di Parongpong, saat saya mendapat
tempat memotret lebih tinggi dari hadirin, kesempatan tersebut pas.</p>

<p><a href="http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/2798686750/" title="Men and Landscape by Ikhlasul Amal, on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3056/2798686750_a2b9598165.jpg" width="500" height="375" alt="Men and Landscape" /></a></p>

<p>Untuk sementara ini, gaya urban lanskap-manusia terasa lebih pas
buat saya dibanding bentang alam yang seringkali menjadikan panorama
alam lebih dominan.</p>

<p>Terima kasih, Budi Sukmana.</p>
]]>
    </content>
</entry>

<entry>
    <title>Pindahan</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://coretmoret.web.id/arc/2008/02/pindahan" />
    <id>tag:coretmoret.web.id,2008://1.603</id>

    <published>2008-02-20T00:28:49Z</published>
    <updated>2008-02-20T21:15:40Z</updated>

    <summary> Kantor kami pindah lokasi &#8212; lagi. Tentu saja, tiga bulan di tempat sebelumnya sangat pendek, namun karena demikian kemauan pemilik rumah &#8212; yaitu tidak memperpanjang sewa &#8212; kami harus berkemas dan pergi....</summary>
    <author>
        <name>Ikhlasul Amal</name>
        
    </author>
    
        <category term="Foto" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
    
    
    <content type="html" xml:lang="en" xml:base="http://coretmoret.web.id/">
        <![CDATA[<p><a href="http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/2274601842/" title="Last Day by Ikhlasul Amal, on Flickr"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2315/2274601842_c2ee5c1c30.jpg" width="500" height="375" alt="Last Day" /></a></p>

<p>Kantor kami pindah lokasi &#8212; lagi. Tentu saja, tiga bulan di tempat
sebelumnya sangat pendek, namun karena demikian kemauan pemilik
rumah &#8212; yaitu tidak memperpanjang sewa &#8212; kami harus berkemas dan
pergi.</p>
]]>
        <![CDATA[<p><a href="http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/2273819043/" title="Migration in Progress by Ikhlasul Amal, on Flickr"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2390/2273819043_b0b672262d.jpg" width="500" height="375" alt="Migration in Progress" /></a></p>

<p>Tidak mudah mencari rumah untuk disewa atau dibeli di Bandung. Tiga
kali cocok dengan sebuah lokasi, berujung kegagalan: rencana
pinjaman pemilikan rumah bernasib tak jelas di bank, pembatalan
penjualan oleh pemilik, dan lokasi yang sudah di luar batas
kotamadya. Yang jelas harga rumah meroket terus di Bandung, sehingga
seorang teman berkomentar, <q>Harus dengan penghasilan berapa agar
dapat rumah di Bandung?</q> Gaji Bandung harga keperluan
<i>property</i> bisa lebih tinggi dari ibukota.</p>

<p>Waktu mendesak.</p>

<p><a href="http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/2276700351/" title="60 Boxes in Progress... by Ikhlasul Amal, on Flickr"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2005/2276700351_9ebc27a424.jpg" width="375" height="500" alt="60 Boxes in Progress..." /></a></p>

<p>Namun syukurlah, setelah usaha mendatangi banyak lokasi akhirnya
malah dapat tempat yang nyaman untuk disewa: di daerah atas dengan pandangan di
depan langsung ke Kota Bandung &#8220;di bawah&#8221; yang ramai. Kendati satu
rumah di depan menghalangi kebebasan melihat tersebut.</p>

<p><a href="http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/2276720775/" title="Interlude by Ikhlasul Amal, on Flickr"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2246/2276720775_1a5db788ab.jpg" width="500" height="375" alt="Interlude" /></a></p>
]]>
    </content>
</entry>

<entry>
    <title>Bloger</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://coretmoret.web.id/arc/2007/10/bloger" />
    <id>tag:coretmoret.web.id,2007://1.584</id>

    <published>2007-10-10T00:58:51Z</published>
    <updated>2007-10-10T01:58:37Z</updated>

    <summary>Padanan bloger mulai digunakan di majalah Tempo untuk blogger.</summary>
    <author>
        <name>Ikhlasul Amal</name>
        
    </author>
    
        <category term="Bahasa dan Sastra" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
    
    
    <content type="html" xml:lang="en" xml:base="http://coretmoret.web.id/">
        <![CDATA[<p>Majalah Tempo edisi 8-14&nbsp;Oktober menulis kata &#8220;bloger&#8221; untuk liputan <cite>Internet Vs Barikade Junta</cite>. Jika penggunaan kata tersebut menjadi pilihan tim penyunting Tempo, berarti sudah ada inisiatif penyerapan <i>blogger</i> menjadi <i>bloger</i>.</p>

<p>Jika nantinya disepakati, penyerapan ini akan mengurangi jumlah kata berhuruf miring karena masih berupa kata asing. Selama ini saya menyadari kesulitan mengganti <i>blogger</i> dengan &#8220;penulis blog&#8221; &#8212; karena tak semua blog dalam bentuk tulisan, &#8220;pengelola blog&#8221; atau &#8220;pemilik blog&#8221; &#8212; lebih umum namun kurang menggambarkan aktivitas yang dilakukan.</p>
]]>
        <![CDATA[<p><i>Bloger</i> juga lebih enak diucapkan dibanding <i>pemblog</i>.  Diskusi tentang perbedaan kedua kata itu mirip dengan <i>prosesor</i> atau <i>pemroses</i> untuk terjemahan <i>processor</i>. Pengubahan &#8220;gg&#8221; di tengah menjadi &#8220;g&#8221; (dari aslinya <i>blogger</i>) dugaan saya mengikuti kelaziman dalam bahasa Indonesia akan keberadaan dua konsonan yang dianggap tak perlu, namun bentuk &#8220;gg&#8221; memang belum dijumpai di buku <abbr title="Ejaan Yang Disempurnakan">EYD</abbr>.</p>

<p>Apakah nyaman dibaca <i>blo-ger</i>, bukan <i>blog-ger</i>? Di Wikipedia pun <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Blog">tak dijelaskan alasan</a> dari <i>blog</i> menjadi <i>blogger</i> dalam bahasa Inggris.</p>

<p>Apakah Tempo akan serius dan konsisten dengan penggunaan kata baru &#8220;bloger&#8221; terserbut? Ini yang masih tanda tanya. Karena di rubrik Teknologi Informasi masih sering muncul <i>database</i> atau <i>software</i> kendati kedua kata tersebut sudah lama memiliki padanan istilah dalam bahasa Indonesia. Termasuk kadang keteledoran menulis dalam huruf miring atau dibiarkan.</p>
]]>
    </content>
</entry>

<entry>
    <title>Ihwal Retorika</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://coretmoret.web.id/arc/2007/05/ihwal-retorika" />
    <id>tag:atijembar.net,2007:/direktif//1.87</id>

    <published>2007-05-31T00:21:16Z</published>
    <updated>2007-08-18T00:45:16Z</updated>

    <summary>Oke, saya dengar retorika Anda. Terus ada apa setelah itu?</summary>
    <author>
        <name>Ikhlasul Amal</name>
        
    </author>
    
        <category term="Motivasi dan Sikap" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
    
    
    <content type="html" xml:lang="en" xml:base="http://coretmoret.web.id/">
        <![CDATA[<p>Optimisme memang tidak tumbuh secepat sebuah kampanye partai politik
dilangsungkan, tidak juga selekas sebuah tabligh akbar usai. Kita
maklum, yang dibicarakan selama dua perhelatan megah tadi adalah
persoalan-persoalan yang berjarak dari situasi (bahkan lokasi) dan
sesuatu yang &#8220;ingin dihindari dengan memalingkan muka darinya&#8221;.
Keduanya penting menurut penggagasnya karena &#8212; salah satunya &#8212;
untuk menumbuhkan optimisme, namun sering berbeda diterima
hadirin, menjadi &#8220;sesuatu yang dikutuk secara massal&#8221; atau &#8220;sesuatu
yang dilupakan sangat sejenak.&#8221;</p>

<p>Dan retorika itu, Tuan-tuan. Ingatan kita tentang cara bertanya
secara retoris di alun-alun atau lapangan terbawa ke mana-mana. Para
penulis menjadi kehilangan gairah untuk mengajak pembacanya
berkontemplasi, merenungi keniscayaan hidup, keberkahan waktu dan
ruang, kenikmatan hari ini, karena tulisan di media ranah publik
terbawa gaya acara di alun-alun di atas.</p>
]]>
        <![CDATA[<p>Kalimat klise seperti &#8220;kemiskinan kian menjadi-jadi, sedangkan
pemerintah dan masyarakat sekitarnya tidak mau peduli,&#8221; berserak di
banyak tempat, sembari menyisakan pertanyaan jika kita hendak
kritis: seperti apa ketidakpedulian itu, masyarakat yang mana?
Karena kita sendiri sebagai masyarakat niscaya ogah dituduh sepihak
seperti itu. Apakah si penulis sendiri bukan bagian dari masyarakat?</p>

<p>Coba lebih jauh lagi: negara ambruk, bangsa tak beradab, umat tak
bermoral, ekonomi terpuruk, politik busuk, kemanusiaan hilang &#8212;
payah, payah, payah! Hingga, &#8220;aku malu menjadi bangsa Indonesia&#8221;&#8230;</p>

<p>Baiklah, saya dengar semua dan seperti mendengung-dengung di sekitar
telinga. Pertanyaan saya senantiasa satu: oke, jika itu semua benar
(setidaknya menurut penyampainya), terus ada apa selanjutnya? Apakah
jika kita berteriak sedemikian kencang dengan semua ungkapan
keputusasaan itu masyarakat menjadi tergerak untuk bangkit?
Sayangnya, yang saya amati justru retorika tersebut yang terekam
dalam benak pendengarnya dan kemudian diputar-ulang lagi di
tempat-tempat lain. Alhasil, di masjid kecil di lorong sempit pun
khotib berseru tentang &#8220;kemunduran akhlak kaum muslimin di negeri
kita&#8221;, sedangkan hal-hal lebih mendasar yang perlu diingatkan untuk
penduduk lorong terlewat, tak tersentuh.</p>

<p>Pesimisme begitu mudah tersebar, antara lain karena orang tidak
menyukainya, tidak ingin terlihat di dekatnya, namun kemudian
sedikit yang mengenyahkan pesimisme dengan melakukan sesuatu.
Setidaknya dengan cara melihat sesuatu secara proporsional.</p>

<p>Apabila kita suntuk dengan ketidakbecusan di sekitar kita, tetap
tersedia proporsi yang memadai untuk hal-hal positif lainnya. Kita
sebal dengan korupsi yang seakan tak kunjung reda, namun tetap
terbersit harapan untuk mengajak diri kita sendiri, teman kita,
kerabat kita, untuk menjauhinya.</p>

<p>Dan untuk apa juga malu menjadi bangsa Indonesia, apabila dengan
cara yang baik, jujur, dan bermartabat, kita dapat menjelaskan
kondisi yang sedang terjadi di negara kita?</p>

<p>Sekaranglah saatnya!</p>
]]>
    </content>
</entry>

<entry>
    <title>Lapis Tengah</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://coretmoret.web.id/arc/2007/02/lapis-tengah" />
    <id>tag:atijembar.net,2007:/direktif//1.86</id>

    <published>2007-02-24T07:57:12Z</published>
    <updated>2007-08-15T10:37:34Z</updated>

    <summary>Kelompok &quot;lapis tengah&quot; yang seharusnya berperan banyak pada perbaikan kondisi Indonesia saat ini.</summary>
    <author>
        <name>Ikhlasul Amal</name>
        
    </author>
    
        <category term="Motivasi dan Sikap" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
    
    
    <content type="html" xml:lang="en" xml:base="http://coretmoret.web.id/">
        <![CDATA[<p>Saya cukup percaya bahwa saat ini negara kita Indonesia memerlukan lapis tengah jauh lebih penting dibanding lainnya. Lapis atas berisi para ahli dengan banyak konsep mereka, sehingga terkadang sedikit dicemooh oleh publik, <q>Ah, itu kan hanya teori. Praktiknya lain&#8230;</q> Sedangkan di lapis bawah yang berjumlah sangat banyak &#8212; seperti bentuk piramida &#8212; adalah masyarakat kebanyakan yang &#8212; seperti digambarkan Ki Hajar Dewantoro &#8212; <i>tut wuri handayani</i>, atau &#8220;mengikut&#8221;.</p>

<p>Siapa yang berada di &#8220;lapis tengah&#8221;? Menurut saya adalah mereka yang bekerja di lapangan, menggunakan konsep yang sudah disusun para ahli, melakukan sejumlah keputusan kerekayasaan atau manajerial, dan mengarahkan usahanya pada tujuan efektif yang dapat diterapkan. Sebagian disebut sebagai &#8220;agen perubahan&#8221;: baik pada perubahan dari tiada menjadi ada, atau dari kondisi stagnan menjadi bergerak dan tekun pada jalur tersebut. Lapis tengah ini memindahkan energi debat kusir kompetisi antarkonsep ke arah pemikiran cara yang implementatif agar pilihan yang diambil dapat beroperasi di lapangan. Misalnya: alih-alih berkerut memikirkan sejauh mana batas pengertian korupsi &#8212; yang acapkali menghasilkan tuduhan bernuansa paguyuban bahwa pemberantasan korupsi bersifat &#8220;tebang pilih&#8221;, lapis tengah lebih berorientasi mencari cara yang lebih realistis agar budaya korupsi sehari-hari mulai dikurangi.</p>
]]>
        <![CDATA[<p>Di semua lini kehidupan bangsa kita, kelompok lapis tengah ini sedang diperlukan &#8212; apapun latar belakang dan bidang yang tengah dikerjakan. Kita tidak mungkin berhenti pada konsep global dan beringsut dari detil. Demikian pula pertanyaan retoris apapun atau solusi komprehensif manapun jika tidak dijabarkan ke tanah, hanya berhenti sebagai wacana. Yang mendesak saat ini adalah <em>cara melaksanakan</em> dan <em>teladan pelaksana</em>. Bagian pertama berisi prinsip kerekayasaan dan manajerial, sedangkan <em>teladan</em> diperlukan karena sekaligus menjadi &#8220;uji coba&#8221; sebuah konsep dan keyakinan penggagasnya. Sekaligus, sebenarnya sebuah ajakan bahwa nasihat pertama kali buat diri sendiri dan, kedua, lebih persuasif dalam mengajak orang lain untuk bergerak.</p>

<p>Inilah saatnya <em>bertindak</em> kemudian <em>mengajak</em>, bukan sebaliknya.</p>
]]>
    </content>
</entry>

<entry>
    <title>Saddam</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://coretmoret.web.id/arc/2006/12/saddam" />
    <id>tag:atijembar.net,2006:/direktif//1.85</id>

    <published>2006-12-31T09:55:37Z</published>
    <updated>2007-08-15T10:37:34Z</updated>

    <summary>Eksekusi mati terhadap Saddam Hussein dilakukan pada hari pertama Idul Adha.</summary>
    <author>
        <name>Ikhlasul Amal</name>
        
    </author>
    
        <category term="Permenungan" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
    
    
    <content type="html" xml:lang="en" xml:base="http://coretmoret.web.id/">
        <![CDATA[<p>Saddam Hussein sudah dieksekusi pada fajar Sabtu, 30 Desember
kemarin. Selain berita tentang cara yang digunakan dengan digantung,
agak mengejutkan juga pelaksanaan hukuman tersebut secepat itu dan
pada saat muslim sedang menyambut Idul Adha. Di Arab Saudi dan
negara-negara yang mengikuti keputusan pemerintah Saudi tentang
jadwal haji tahun ini, hari itu adalah hari kurban. Di negara
lainnya, sebagian umat Islam sedang melaksanakan puasa Arafah.</p>

<p>Lepas dari kontroversi Saddam yang dianggap diktator atau pahlawan,
sedikit-banyak pemilihan waktu yang berkaitan dengan simbol kurban
sebagai salah satu kelanjutan peristiwa yang dilakukan penghulu
Agama Tauhid, Ibrahim <abbr title="alaihis salaam">a.s.</abbr>,
potensial memicu perasaan tidak nyaman. Bahwa keputusan dan
pelaksanaan hukuman mati tersebut dilakukan oleh &#8220;pemerintah&#8221; Irak
saat ini, orang tetap sulit melupakan campur tangan pihak asing
dalam proses kejatuhan Saddam. Luapan kekecewaan atas kesan tidak
nyaman ini &#8212; dan sangat mungkin hingga &#8220;kemarahan&#8221; &#8212; dapat
menjalar menuju &#8220;musuh bersama&#8221; dan itu berarti pihak asing.</p>
]]>
        <![CDATA[<p>Bara persoalan yang selama ini berpijar terang dan redup dengan
pihak asing, dalam hal ini sering disederhanakan sebagai &#8220;Barat&#8221;,
dapat bermula dari anggapan bahwa pelaksanaan hukuman mati terhadap
Saddam adalah tidak peka terhadap situasi.</p>

<p>Sejumlah analis sudah menyebut hal ini dengan <a href="http://news.yahoo.com/s/afp/20061231/wl_mideast_afp/iraqjusticesaddamexecutionarab">&#8220;risiko balas
dendam&#8221;</a>.</p>

<blockquote>
<p>
Mesir menyesalkan fakta bahwa otoritas Irak menjalankan eksekusi
terhadap mantan Presiden Irak Saddam Hussein, dan hal itu dilakukan
pada hari pertama Idul Adha.
</p>
<p>
&mdash; juru bicara menteri luar negeri Mesir Alaa al-Hadidi.
</p>
</blockquote>

<p>Demikian pula komentar dari kantor berita resmi Saudi Arabia,</p>

<blockquote>
<p>
Terdapat perasaan heran dan terkejut bahwa pelaksanaan hukuman
mati terhadap mantan presiden Irak datang&#8230; pada hari pertama Idul
Adha pada saat&#8230; umat Islam berkumpul bersama.
</p>
</blockquote>
]]>
    </content>
</entry>

<entry>
    <title>Blog Foto</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://coretmoret.web.id/arc/2006/11/blog-foto" />
    <id>tag:atijembar.net,2006:/direktif//1.84</id>

    <published>2006-11-30T16:18:32Z</published>
    <updated>2007-08-15T10:37:34Z</updated>

    <summary>Pengalaman dengan blog foto (photoblog)</summary>
    <author>
        <name>Ikhlasul Amal</name>
        
    </author>
    
        <category term="Motivasi dan Sikap" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
    
    
    <content type="html" xml:lang="en" xml:base="http://coretmoret.web.id/">
        <![CDATA[<p>Seperti halnya perkenalan saya dengan aktivitas menulis di blog,
pengalaman menekuni blog foto (<i>photoblog</i>) memiliki banyak
kemiripan. Sampai saat ini, saya masih tergolong sebagai pemotret
amatir dengan bekal kamera saku 2&nbsp;megapiksel di kantong. Saya
akan menceritakan kegiatan tersebut di bawah ini.</p>

<div class="picarticle">
<p><a href="http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/304602906/" title="Photo Sharing"><img src="http://static.flickr.com/116/304602906_2a8d5c2501_m.jpg" width="240" height="180" alt="Rain Fell Yesterday Afternoon" /></a></p>
</div>

<p>Pertama dan penting adalah <strong>keinginan yang cukup untuk
&#8220;bercapek-capek memotret&#8221;</strong>. Sama seperti penulis blog yang justru
mengeluarkan daya dan ongkos untuk memasang artikel secara teratur,
melakukan pemotretan dan pemasangan di situs Web adalah keharusan
untuk pelaku blog foto. Berbeda dengan album foto yang cenderung
disediakan statis (dan benar-benar perpindahan fungsional dari album
lama), blog foto &#8220;lebih hidup&#8221; dengan cerita yang dipaparkan lewat
foto oleh si pemotret. Kehidupan sehari-hari yang dijumpai si pemotret itu sendiri merupakan contoh tema yang diangkat di blog foto.</p>

<p>Sampai hari ini saya belum pernah mengkhususkan diri untuk berburu
obyek foto. Selain hal tersebut lebih merepotkan saya, dari awal
saya berpendapat bahwa di sekitar kita banyak obyek yang menarik
untuk dipotret. Pada saat berangkat ke kantor, pulang dari kantor,
rehat di antara pekerjaan, perjalanan proyek, hingga waktu tunggu
yang semula membosankan, saya isi dengan mengambil gambar lewat
kamera saku. Saya menjadi lebih menikmati &#8220;waktu antara&#8221; ini dan
percayalah: ada saja momen sekilas yang langsung terlihat menarik
untuk dipotret atau baru terlihat menarik setelah diunggah ke
komputer.</p>
]]>
        <![CDATA[<p>Tidak perlu patah semangat jika belum berhasil memilih dari koleksi:
seringkali dari sekitar tiga puluh foto yang tersimpan, saya hanya
mengambil 2&#8212;5 foto untuk &#8220;dipajang&#8221; di blog foto. Sisanya saya
biarkan di komputer pribadi dan suatu saat paling akan saya simpan
di cakram optik misalnya. Untuk sebuah obyek saya selalu mengambil
minimal dua kali pemotretan dengan sudut yang digeser sedikit. Nanti
setelah diamati di komputer, barulah terlihat foto yang bakal
dipilih. Beruntunglah kita sudah menggunakan kamera digital yang
siap dioperasikan dengan sangat murah. Hasil yang tidak berkenan
tinggal dihapus. Bayangkan jika dibandingkan dengan ongkos
pemotretan menggunakan film seluloid yang dapat menelan
Rp&nbsp;100.000,00 untuk setiap rol.</p>

<p>Karena setiap orang memiliki pendekatan masing-masing untuk mengisi
blognya, saya menggunakan hal yang sama dengan tulisan untuk blog
foto, yakni <strong>resep spesifik dan berusaha fokus</strong>. Dengan kondisi
tanpa bekal ilmu fotografi yang memadai dan modal peralatan
pas-pasan, saya harus memilih sudut pandang yang menarik (setidaknya
untuk saya sendiri) dan mudah diambil.</p>

<p>Atas dasar alasan tersebut saya berusaha sebanyak mungkin
&#8220;bercerita&#8221; tentang kondisi sehari-hari dan sedapat mungkin lewat
kamera saku saya bertutur. Hal ini kian menjadi mudah setelah saya
sadari foto-foto jenis lain &#8212; seperti percobaan saya dengan jenis
&#8220;dalam ruangan&#8221; &#8212; belum membuahkan hasil yang memuaskan dibanding
petualangan di jalanan atau di tempat menunggu.</p>

<p><strong>Sebuah tempat yang menyenangkan</strong> untuk memajang hasil karya
pemotretan juga berpengaruh besar. Saya belum tahu kemungkinan
bereksperimen blog foto di tempat yang serius seperti Fotografer.net
misalnya; dari pengalaman saya bergabung di sana, situs
tersebut lebih berkonsentrasi pada perbincangan di seputar ilmu dan
teknik fotografi alih-alih <em>bersenang-senang dengan fotografi</em>.
Situs lain yang menyediakan layanan penyimpanan foto dan gambar
sangat banyak jumlahnya di Internet, termasuk kemungkinan memasang
perangkat lunak galeri foto di tempat <i>hosting</i> pribadi.</p>

<p>Bagi saya, <a href="http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/">Flickr</a>
adalah situs yang menyenangkan. Selain menyediakan alat bantu yang
lengkap untuk pengolahan dasar gambar seperti rotasi dan perbesaran,
pengelolaan foto, penggunaan tag (hai, sekarang Web&nbsp;2.0!),
koleksi, jejaring sosial, dan grup foto. Betul, Flickr memang
&#8220;dikomplain&#8221; oleh sebagian orang karena sejumlah fasilitas baru
disediakan dalam kapasitas besar jika pemakai berlangganan edisi
berbayar.</p>

<p>Justru dengan kedatangan teman-teman baru blog foto dan grup
&#8220;aneh-aneh&#8221;, Flickr Pro &#8212; edisi yang berbayar &#8212; itu menjadi
tantangan. Apabila aktivitas pemotretan saya sudah lebih rutin lagi,
besar kemungkinan akun Pro tadi diperlukan. Ini menambah &#8220;investasi&#8221;
saya di ranah maya, menambahi ongkos yang sudah dikeluarkan untuk
tempat <i>hosting</i> dan nama domain. &#8220;Grup aneh&#8221; ini misalnya
untuk foto
<a href="http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/297967701/"><cite>Warteg</cite></a>, saya diundang untuk memasukkannya ke
grup <cite>People Watching or with a TV</cite>.</p>

<p>Seperti keasyikan di sela-sela menulis, memotret tema tertentu dan
memajangnya di Flickr menjadi motivasi untuk menampilkan foto-foto
baru. Lisensi yang saya gunakan pun serupa dengan tulisan di blog,
yakni Share Alike. Walau amatir, saya mencoba sedikit &#8220;nekat&#8221;
<a href="http://www.flickr.com/people/ikhlasulamal/">menjual pekerjaan foto saya untuk keperluan
donasi</a>. Lebih tepatnya:
jika ingin menghargai pekerjaan saya memotret dalam bentuk uang,
saya dengan tangan terbuka akan menerima bayaran tersebut dan
meneruskannya untuk sedekah. Apakah ini akan membuahkan hasil dalam
bentuk uang? Tetap optimis dan tunggu saja&#8230;</p>

<p>Apakah saya akan menjadi fotografer dengan menekuni blog foto?
Pertanyaan ini mirip dengan kaitan penulis blog dengan jurnalisme:
apakah saya telah menjadi jurnalis? Saya agak mengabaikan urusan
tersebut. Yang lebih penting saat ini adalah mengisi situs Web
(terutama produk dalam negeri) dengan materi yang diharapkan
bermanfaat. Biarlah disebut blog foto atau julukan lainnya.</p>

<p>Tulisan di blog dan potret di blog foto saya isi dengan rona
tertentu &#8212; yang saya rasakan sebagai &#8220;keseriusan&#8221; atau ditengarai
juga sebagai &#8220;idealisme&#8221; oleh orang lain.</p>
]]>
    </content>
</entry>

</feed>
