<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<rss version="2.0">
    <channel>
        <title>Coret Moret Amal</title>
        <link>http://coretmoret.web.id/</link>
        <description>Ruang yang lebih lapang untuk merangkai ungkapan</description>
        <language>id</language>
        <copyright>Copyright 2008</copyright>
        <lastBuildDate>Wed, 20 Feb 2008 07:28:49 +0700</lastBuildDate>
        <generator>http://www.sixapart.com/movabletype/</generator>
        <docs>http://www.rssboard.org/rss-specification</docs>
        
        <item>
            <title>Pindahan</title>
            <description><![CDATA[<p><a href="http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/2274601842/" title="Last Day by Ikhlasul Amal, on Flickr"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2315/2274601842_c2ee5c1c30.jpg" width="500" height="375" alt="Last Day" /></a></p>

<p>Kantor kami pindah lokasi &#8212; lagi. Tentu saja, tiga bulan di tempat
sebelumnya sangat pendek, namun karena demikian kemauan pemilik
rumah &#8212; yaitu tidak memperpanjang sewa &#8212; kami harus berkemas dan
pergi.</p>
]]></description>
            <link>http://coretmoret.web.id/arc/2008/02/pindahan</link>
            <guid>http://coretmoret.web.id/arc/2008/02/pindahan</guid>
            
                <category domain="http://www.sixapart.com/ns/types#category">Foto</category>
            
            
            <pubDate>Wed, 20 Feb 2008 07:28:49 +0700</pubDate>
        </item>
        
        <item>
            <title>Bloger</title>
            <description><![CDATA[<p>Majalah Tempo edisi 8-14&nbsp;Oktober menulis kata &#8220;bloger&#8221; untuk liputan <cite>Internet Vs Barikade Junta</cite>. Jika penggunaan kata tersebut menjadi pilihan tim penyunting Tempo, berarti sudah ada inisiatif penyerapan <i>blogger</i> menjadi <i>bloger</i>.</p>

<p>Jika nantinya disepakati, penyerapan ini akan mengurangi jumlah kata berhuruf miring karena masih berupa kata asing. Selama ini saya menyadari kesulitan mengganti <i>blogger</i> dengan &#8220;penulis blog&#8221; &#8212; karena tak semua blog dalam bentuk tulisan, &#8220;pengelola blog&#8221; atau &#8220;pemilik blog&#8221; &#8212; lebih umum namun kurang menggambarkan aktivitas yang dilakukan.</p>
]]></description>
            <link>http://coretmoret.web.id/arc/2007/10/bloger</link>
            <guid>http://coretmoret.web.id/arc/2007/10/bloger</guid>
            
                <category domain="http://www.sixapart.com/ns/types#category">Bahasa dan Sastra</category>
            
            
            <pubDate>Wed, 10 Oct 2007 08:58:51 +0700</pubDate>
        </item>
        
        <item>
            <title>Ihwal Retorika</title>
            <description><![CDATA[<p>Optimisme memang tidak tumbuh secepat sebuah kampanye partai politik
dilangsungkan, tidak juga selekas sebuah tabligh akbar usai. Kita
maklum, yang dibicarakan selama dua perhelatan megah tadi adalah
persoalan-persoalan yang berjarak dari situasi (bahkan lokasi) dan
sesuatu yang &#8220;ingin dihindari dengan memalingkan muka darinya&#8221;.
Keduanya penting menurut penggagasnya karena &#8212; salah satunya &#8212;
untuk menumbuhkan optimisme, namun sering berbeda diterima
hadirin, menjadi &#8220;sesuatu yang dikutuk secara massal&#8221; atau &#8220;sesuatu
yang dilupakan sangat sejenak.&#8221;</p>

<p>Dan retorika itu, Tuan-tuan. Ingatan kita tentang cara bertanya
secara retoris di alun-alun atau lapangan terbawa ke mana-mana. Para
penulis menjadi kehilangan gairah untuk mengajak pembacanya
berkontemplasi, merenungi keniscayaan hidup, keberkahan waktu dan
ruang, kenikmatan hari ini, karena tulisan di media ranah publik
terbawa gaya acara di alun-alun di atas.</p>
]]></description>
            <link>http://coretmoret.web.id/arc/2007/05/ihwal-retorika</link>
            <guid>http://coretmoret.web.id/arc/2007/05/ihwal-retorika</guid>
            
                <category domain="http://www.sixapart.com/ns/types#category">Motivasi dan Sikap</category>
            
            
            <pubDate>Thu, 31 May 2007 08:21:16 +0700</pubDate>
        </item>
        
        <item>
            <title>Lapis Tengah</title>
            <description><![CDATA[<p>Saya cukup percaya bahwa saat ini negara kita Indonesia memerlukan lapis tengah jauh lebih penting dibanding lainnya. Lapis atas berisi para ahli dengan banyak konsep mereka, sehingga terkadang sedikit dicemooh oleh publik, <q>Ah, itu kan hanya teori. Praktiknya lain&#8230;</q> Sedangkan di lapis bawah yang berjumlah sangat banyak &#8212; seperti bentuk piramida &#8212; adalah masyarakat kebanyakan yang &#8212; seperti digambarkan Ki Hajar Dewantoro &#8212; <i>tut wuri handayani</i>, atau &#8220;mengikut&#8221;.</p>

<p>Siapa yang berada di &#8220;lapis tengah&#8221;? Menurut saya adalah mereka yang bekerja di lapangan, menggunakan konsep yang sudah disusun para ahli, melakukan sejumlah keputusan kerekayasaan atau manajerial, dan mengarahkan usahanya pada tujuan efektif yang dapat diterapkan. Sebagian disebut sebagai &#8220;agen perubahan&#8221;: baik pada perubahan dari tiada menjadi ada, atau dari kondisi stagnan menjadi bergerak dan tekun pada jalur tersebut. Lapis tengah ini memindahkan energi debat kusir kompetisi antarkonsep ke arah pemikiran cara yang implementatif agar pilihan yang diambil dapat beroperasi di lapangan. Misalnya: alih-alih berkerut memikirkan sejauh mana batas pengertian korupsi &#8212; yang acapkali menghasilkan tuduhan bernuansa paguyuban bahwa pemberantasan korupsi bersifat &#8220;tebang pilih&#8221;, lapis tengah lebih berorientasi mencari cara yang lebih realistis agar budaya korupsi sehari-hari mulai dikurangi.</p>
]]></description>
            <link>http://coretmoret.web.id/arc/2007/02/lapis-tengah</link>
            <guid>http://coretmoret.web.id/arc/2007/02/lapis-tengah</guid>
            
                <category domain="http://www.sixapart.com/ns/types#category">Motivasi dan Sikap</category>
            
            
            <pubDate>Sat, 24 Feb 2007 14:57:12 +0700</pubDate>
        </item>
        
        <item>
            <title>Saddam</title>
            <description><![CDATA[<p>Saddam Hussein sudah dieksekusi pada fajar Sabtu, 30 Desember
kemarin. Selain berita tentang cara yang digunakan dengan digantung,
agak mengejutkan juga pelaksanaan hukuman tersebut secepat itu dan
pada saat muslim sedang menyambut Idul Adha. Di Arab Saudi dan
negara-negara yang mengikuti keputusan pemerintah Saudi tentang
jadwal haji tahun ini, hari itu adalah hari kurban. Di negara
lainnya, sebagian umat Islam sedang melaksanakan puasa Arafah.</p>

<p>Lepas dari kontroversi Saddam yang dianggap diktator atau pahlawan,
sedikit-banyak pemilihan waktu yang berkaitan dengan simbol kurban
sebagai salah satu kelanjutan peristiwa yang dilakukan penghulu
Agama Tauhid, Ibrahim <abbr title="alaihis salaam">a.s.</abbr>,
potensial memicu perasaan tidak nyaman. Bahwa keputusan dan
pelaksanaan hukuman mati tersebut dilakukan oleh &#8220;pemerintah&#8221; Irak
saat ini, orang tetap sulit melupakan campur tangan pihak asing
dalam proses kejatuhan Saddam. Luapan kekecewaan atas kesan tidak
nyaman ini &#8212; dan sangat mungkin hingga &#8220;kemarahan&#8221; &#8212; dapat
menjalar menuju &#8220;musuh bersama&#8221; dan itu berarti pihak asing.</p>
]]></description>
            <link>http://coretmoret.web.id/arc/2006/12/saddam</link>
            <guid>http://coretmoret.web.id/arc/2006/12/saddam</guid>
            
                <category domain="http://www.sixapart.com/ns/types#category">Permenungan</category>
            
            
            <pubDate>Sun, 31 Dec 2006 16:55:37 +0700</pubDate>
        </item>
        
        <item>
            <title>Blog Foto</title>
            <description><![CDATA[<p>Seperti halnya perkenalan saya dengan aktivitas menulis di blog,
pengalaman menekuni blog foto (<i>photoblog</i>) memiliki banyak
kemiripan. Sampai saat ini, saya masih tergolong sebagai pemotret
amatir dengan bekal kamera saku 2&nbsp;megapiksel di kantong. Saya
akan menceritakan kegiatan tersebut di bawah ini.</p>

<div class="picarticle">
<p><a href="http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/304602906/" title="Photo Sharing"><img src="http://static.flickr.com/116/304602906_2a8d5c2501_m.jpg" width="240" height="180" alt="Rain Fell Yesterday Afternoon" /></a></p>
</div>

<p>Pertama dan penting adalah <strong>keinginan yang cukup untuk
&#8220;bercapek-capek memotret&#8221;</strong>. Sama seperti penulis blog yang justru
mengeluarkan daya dan ongkos untuk memasang artikel secara teratur,
melakukan pemotretan dan pemasangan di situs Web adalah keharusan
untuk pelaku blog foto. Berbeda dengan album foto yang cenderung
disediakan statis (dan benar-benar perpindahan fungsional dari album
lama), blog foto &#8220;lebih hidup&#8221; dengan cerita yang dipaparkan lewat
foto oleh si pemotret. Kehidupan sehari-hari yang dijumpai si pemotret itu sendiri merupakan contoh tema yang diangkat di blog foto.</p>

<p>Sampai hari ini saya belum pernah mengkhususkan diri untuk berburu
obyek foto. Selain hal tersebut lebih merepotkan saya, dari awal
saya berpendapat bahwa di sekitar kita banyak obyek yang menarik
untuk dipotret. Pada saat berangkat ke kantor, pulang dari kantor,
rehat di antara pekerjaan, perjalanan proyek, hingga waktu tunggu
yang semula membosankan, saya isi dengan mengambil gambar lewat
kamera saku. Saya menjadi lebih menikmati &#8220;waktu antara&#8221; ini dan
percayalah: ada saja momen sekilas yang langsung terlihat menarik
untuk dipotret atau baru terlihat menarik setelah diunggah ke
komputer.</p>
]]></description>
            <link>http://coretmoret.web.id/arc/2006/11/blog-foto</link>
            <guid>http://coretmoret.web.id/arc/2006/11/blog-foto</guid>
            
                <category domain="http://www.sixapart.com/ns/types#category">Motivasi dan Sikap</category>
            
            
            <pubDate>Thu, 30 Nov 2006 23:18:32 +0700</pubDate>
        </item>
        
        <item>
            <title>KBBI</title>
            <description><![CDATA[<p>Perlu &#8220;nasionalisme&#8221;, kesungguhan, dan modal untuk memiliki Kamus
Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang dikeluarkan oleh Departemen
Pendidikan Nasional dan diterbitkan Balai Pustaka. &#8220;Nasionalisme&#8221;
yang saya maksud sederhana saja: jangan heran jika beroleh
pertanyaan, <q>Orang Indonesia kok beli kamus bahasa Indonesia?</q>
Jika si pembeli kebetulan hendak pergi ke manca negara dalam rentang
waktu lama, ditambahi lagi, <q>Khawatir lupa bahasa Indonesia di
sana?</q></p>

<p>Ya, nasionalisme kita harus cukup logis untuk <em>meyakinkan kita sendiri</em> bahwa
penutur bahasa ibu pun perlu rujukan yang memadai, yang dapat
dijadikan pegangan. Jika ia sekadar sentimen kebangsaan tempat
kelahiran &#8212; dan memang nasionalisme masuk kelompok faham romantik
&#8212; ujungnya menghasilkan dalih &#8220;kemalasan&#8221; semacam, <q>Bahasa adalah
alat komunikasi. Jika kedua belah pihak mengerti maksud pembicaraan,
mengapa harus dibuat sulit?</q> Apatah tetap layak pertanyaan tadi
dikemukakan untuk <em>keduaratus juta pihak</em> &#8212; yakni jumlah penduduk
negeri ini?</p>

<p>Negara Belanda yang seluas provinsi Lampung dan berpenduduk sebanyak
<acronym>Jabotabek</acronym> saja punya berjenis-jenis kamus bahasa
Belanda untuk penuturnya sendiri.</p>

<p>Sedangkan kesungguhan itu tercermin dari cara memperoleh <abbr>KBBI</abbr>: untuk
mendapatkannya, <abbr>KBBI</abbr> biasanya tersedia di toko buku papan atas,
perpustakaan pemerintah yang berjumlah sangat sedikit, atau jika
datang ke pasar alternatif seperti di Palasari, dapat terkecoh oleh
versi bajakan. Hendak idealis menunggu versi resmi datang pun kadang
perlu waktu tunggu hingga satu bulan. Godaan itu demikian kuat:
dengan harga melorot hingga separuh, versi bajakan langsung dapat
dibeli tanpa perlu menunggu pesanan toko buku datang. Jangan terlalu
berharap <abbr>KBBI</abbr> diedarkan di lapak-lapak emperan atau penjaja asongan
di perempatan seperti halnya versi bajakan Kamus Inggris-Indonesia
(dan sebaliknya) buah karya Echols-Shadily. Pembajak kamus pun
pikir-pikir untuk mencetak <abbr>KBBI</abbr> dalam jumlah besar.</p>
]]></description>
            <link>http://coretmoret.web.id/arc/2006/10/kbbi</link>
            <guid>http://coretmoret.web.id/arc/2006/10/kbbi</guid>
            
                <category domain="http://www.sixapart.com/ns/types#category">Bahasa dan Sastra</category>
            
            
            <pubDate>Sun, 29 Oct 2006 05:50:46 +0700</pubDate>
        </item>
        
        <item>
            <title>Batas Fisik</title>
            <description><![CDATA[<p>Sebenarnya tidak ada yang baru dengan konsep <i>busway</i> di
Jakarta.</p>

<p>Sebuah jalur khusus untuk angkutan umum sudah disediakan jauh-jauh
waktu. Di sisi paling kiri banyak jalan utama di Jakarta (dan
kemungkinan juga di kota-kota besar lain) terdapat lajur khusus untuk bus
kota dengan tulisan besar eksplisit. Sayang, jalur ini akhirnya
dipakai campur aduk dengan pengguna jalan raya lain dan angkutan
umum sendiri tidak disiplin menggunakannya.</p>

<p>Demikian juga kondisi &#8220;tidak mendahului&#8221; antara satu bus dengan
lainnya seperti yang terlihat pada <i>busway</i> sekarang, sudah
sejak dulu diatur. Di kaca belakang bus kota ditulis aturan, &#8220;Sesama
bus kota dilarang saling mendahului.&#8221; Namun, sudah menjadi
pemandangan umum ketentuan tersebut juga dilanggar.</p>

<p>Terakhir: <i>busway</i> berhenti hanya di halte dan penumpang dengan
tertib naik-turun. Ini juga cerita lama: bus kota sudah lama
diwajibkan hanya berhenti untuk menaik-turunkan penumpang di halte.
Seingat saya aturan ini pernah tegas diterapkan di ibukota (dan
barangkali juga di kota-kota lain), namun tidak bertahan lama juga.</p>
]]></description>
            <link>http://coretmoret.web.id/arc/2006/09/batas-fisik</link>
            <guid>http://coretmoret.web.id/arc/2006/09/batas-fisik</guid>
            
                <category domain="http://www.sixapart.com/ns/types#category">Permenungan</category>
            
            
            <pubDate>Mon, 18 Sep 2006 10:43:18 +0700</pubDate>
        </item>
        
        <item>
            <title>Garis Keras</title>
            <description><![CDATA[<p>Di mana-mana haluan garis keras kerap menjadi bahan sindiran. Saya
juga menyindir jika sebuah pendapat (bukan orangnya) tentang
demokrasi begitu bersemangat, mengeras, sehingga malah terkesan
tidak demokratis lagi. Apabila demokrasi berlaku ofensif terhadap
pandangan orang lain, seni demokratis itu sendiri hilang dan jika
dibiarkan lebih jauh, ia akan menjadi kekerasan dalam bentuk yang
lain. Demikian juga sekiranya kebanyakragaman terlalu berakting
berlebihan sehingga pihak yang mempertahankan keyakinannya dianggap
menyeragam, alasan kebanyakragaman itu sendiri menjadi menodong
setiap orang untuk mengikuti pendapatnya.</p>

<p>Oleh karena itu jika gerakan-gerakan yang mengatasnamakan agama
Islam mengeras dengan pandangannya, saya maklum. Apa salahnya mereka
berbeda dengan pandangan umum? Soal menjadi bahan tertawaan, jika
niat mereka lurus dan menggantungkan hasil dari usahanya bukan pada
penilaian orang lain melainkan pada ketentuan Allah, sudah
sepatutnya tertawaan tersebut tidak usah terlalu dimasukkan hati,
tidak usah menjadi penyebab kemarahan.</p>
]]></description>
            <link>http://coretmoret.web.id/arc/2006/04/garis-keras</link>
            <guid>http://coretmoret.web.id/arc/2006/04/garis-keras</guid>
            
                <category domain="http://www.sixapart.com/ns/types#category">Permenungan</category>
            
            
            <pubDate>Sat, 29 Apr 2006 23:09:17 +0700</pubDate>
        </item>
        
        <item>
            <title>Playboy Edisi Indonesia Akhirnya Terbit</title>
            <description><![CDATA[<p><a href="http://coretmoret.web.id/arc/2006/01/playboy-indonesia">Playboy edisi
Indonesia</a> terbit hari ini. Setelah diberitahu teman
akan <a href="http://www.detikhot.com/index.php/tainment.read/tahun/2006/bulan/04/tgl/06/time/151346/idnews/571953/idkanal/230">berita di
Detikhot</a>,
pagi ini Rendy Maulana sudah berkabar akan <a href="http://www.rendymaulana.com/archives/2006/04/07/playboy-the-killer-brand/
" title="Playboy - The Killer Brand">pengalaman (dan sedikit
ulasan) pembelian majalah
Playboy</a> dari tempat langganannya. Seperti
sudah diduga dari janji redaktur mereka, Playboy edisi Indonesia
konon tampil &#8220;lebih sopan&#8221; dibandingkan aslinya, artikelnya pun
berkualitas.</p>

<p>Itu semua juga tidak mengherankan: artikel-artikel Playboy dari
negara aslinya sudah beberapa kali diterjemahkan oleh media lokal
<em>tanpa harus mendatangkan Playboy sebagai majalah</em>. Dari milis
<a href="http://groups.yahoo.com/group/jurnalisme">Jurnalisme</a> saya membaca
masukan sebagian jurnalis yang mendiskusikan: apakah media seperti
Playboy masuk kategori jurnalistik? Pendapat lainnya adalah
persoalan empati para jurnalis sendiri terhadap aspirasi masyarakat
yang seharusnya termasuk tanggung jawab jurnalis juga. Sedangkan di
milis lain, salah satu teman yang menggeluti ilmu ekonomi melihat
tidak ada keuntungan apapun dengan datangnya Playboy di Indonesia.
Target mereka akan pembaca tertentu tidak masuk akal karena para
pembaca tersebut jumlahnya hanya sedikit dan masih tetap dapat
memperoleh Playboy dengan membeli di luar negeri misalnya.</p>

<p>Saya juga menyangsikan bahwa aturan distribusi yang terbatas
tersebut dapat terlaksana. Bukan apa-apa, karena pada sisi lain saya
membaca sendiri pendapat pesimis akan ketentuan pailit pada
aturan ketenagakerjaan yang <a href="http://rony.dgworks.net/2006/03/29/orang-orang-bergerak/
" title="Orang-orang Bergerak">dapat dengan mudah dibuat kongkalikong antara
pengusaha dan pihak pemberi status
pailit</a>. Intinya: di sebuah tempat
yang dianggap &#8220;korup&#8221;, susah diharapkan aturan dapat ditegakkan
dengan benar. Jadi, bolehlah argumen tersebut saya pinjam dalam
rangka kesangsian saya akan distribusi terbatas Playboy edisi
Indonesia.</p>
]]></description>
            <link>http://coretmoret.web.id/arc/2006/04/playboy-edisi-indonesia-akhirn</link>
            <guid>http://coretmoret.web.id/arc/2006/04/playboy-edisi-indonesia-akhirn</guid>
            
                <category domain="http://www.sixapart.com/ns/types#category">Motivasi dan Sikap</category>
            
                <category domain="http://www.sixapart.com/ns/types#category">Sosial dan Budaya</category>
            
            
            <pubDate>Fri, 07 Apr 2006 14:48:00 +0700</pubDate>
        </item>
        
        <item>
            <title>Senin yang Istimewa</title>
            <description><![CDATA[<div style="float:left;margin-right:1em">
<p>
<a href="http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/122334447/" title="Photo Sharing"><img src="http://static.flickr.com/43/122334447_8ec30c2a5f_t.jpg" width="100" height="75" alt="Dry season has came" /></a>
</p>
</div>

<p>Hari Senin awal pekan ini memang istimewa. Pagi hari saat saya
berangkat ke kantor dengan naik Angkutan Kota di Bandung, tatkala
Angkot saya <i>ngetem</i> di depan mulut cabang jalan Dago Pojok,
saya merasa sinar matahari menghidupkan dinding toko dan rumah di
seberang jalan dengan warna yang indah. Diambil lewat jendela
angkot, dari dua jepretan kamera yang saya lakukan, satu gambar
merekam kecerahan matahari musim kemarau.</p>

<div style="float:right;margin-left:1em">
<p>
<a href="http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/123219531/" title="Photo Sharing"><img src="http://static.flickr.com/43/123219531_07f4f9e185_t.jpg" width="100" height="75" alt="Back from office /2" /></a>
</p>
</div>

<p>Tidak cukup waktu berangkat kantor. Sepulang dari kerja, sambil
menjinjing kantong plastik berisi roti bakar pesanan anak-anak di
rumah, saya tertegun menjelang belok di sebuah turunan dekat rumah.
Pemandangan matahari terbenam di daerah utara demikian elok.
Berhenti, meletakkan kantong plastik di atas hamparan rumput, saya
segera mengambil beberapa momen tersebut dan saya pilih dua yang
paling mewakili.</p>

<p>Sebuah hari yang penuh dengan panorama indah.</p>
]]></description>
            <link>http://coretmoret.web.id/arc/2006/04/senin-yang-istimewa</link>
            <guid>http://coretmoret.web.id/arc/2006/04/senin-yang-istimewa</guid>
            
                <category domain="http://www.sixapart.com/ns/types#category">Reportase</category>
            
            
            <pubDate>Wed, 05 Apr 2006 05:27:19 +0700</pubDate>
        </item>
        
        <item>
            <title>Standar Ganda</title>
            <description><![CDATA[<p>Sebenarnya, untuk apa menuding dengan ungkapan &#8220;standar ganda&#8221;?
Tidak perlu dan condong sepihak.</p>

<p>Pertama, setiap pihak tentu punya sekumpulan standar yang diyakini,
dipegang teguh, atau praktis untuk dijalani. Dengan sifat manusia
yang sosial, setiap orang tentu bersinggungan dengan banyak
pemikiran dan pada beberapa persinggungan tersebut sangat mungkin
tumbuh sebuah sikap standar yang diikuti. Dalam hal memperoleh
penghasilan, saya mengikuti standar tertentu; dalam hal lainnya,
saya mengikuti standar tertentu yang lain. Standar-standar tersebut
dapat dilihat benang merahnya &#8212; misalnya menghasilkan pandangan, si
A adalah <em>idealis</em>, si B <em>maunya praktis</em>, dan
sebagainya. Atau, memang tidak terlihat kaitannya, sehingga standar
yang dia pakai adalah <em>ketidakteraturan</em> itu sendiri.</p>

<p>Selanjutnya, setiap pihak tentu punya kepentingan, apapun bentuk dan
lingkupnya. Tanpa kepentingan, seseorang bisa beranggapan bahwa
hidup ini tidak penting, dan kalau begitu apa guna dibicarakan?</p>
]]></description>
            <link>http://coretmoret.web.id/arc/2006/04/standar-ganda</link>
            <guid>http://coretmoret.web.id/arc/2006/04/standar-ganda</guid>
            
                <category domain="http://www.sixapart.com/ns/types#category">Permenungan</category>
            
            
            <pubDate>Sat, 01 Apr 2006 16:31:11 +0700</pubDate>
        </item>
        
        <item>
            <title>Playboy Indonesia</title>
            <description><![CDATA[<p>Tanpa malu-malu, <a href="http://detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/01/tgl/12/time/114047/idnews/517128/idkanal/230">majalah Playboy edisi Indonesia akan beredar bulan
Maret
mendatang</a>. Walaupun dijanjikan akan disesuaikan dengan kultur
negeri kita, <em>Playboy tetaplah Playboy dengan semua citra, atribut,
dan kecenderungan yang melekat selama ini</em>. Tidak mungkin majalah
tersebut muncul dengan melepas citra, atribut, dan kecenderungan
yang sudah dimilikinya &#8212; tidak ada untungnya secara bisnis dan buat
apa capek-capek mengubah citra di Indonesia? Jadi saya pesimis
dengan janji-janji eufimisme yang didengungkan pihak penerbit
Playboy Indonesia (dan juga majalah-majalah serupa yang sudah terbit
lebih dulu) karena yang pertama mereka depankan adalah citra yang
sudah melekat.</p>

<p><strong>Saya tidak setuju dengan penerbitan Playboy edisi Indonesia.</strong>
Saya tidak hendak berpusing-pusing dengan sekian alasan seperti
kekhawatiran dekadensi moral, seimbang dengan keengganan saya
berdebat kusir perihal kebebasan berekspresi, kedewasaan pembaca di
negara kita, dan seribu satu argumentasi pemasaran lainnya. Alasan
utama ketidaksetujuan saya: <em>media seperti Playboy bertentangan
dengan syariat yang saya yakini dan saya anut</em>.</p>
]]></description>
            <link>http://coretmoret.web.id/arc/2006/01/playboy-indonesia</link>
            <guid>http://coretmoret.web.id/arc/2006/01/playboy-indonesia</guid>
            
                <category domain="http://www.sixapart.com/ns/types#category">Sosial dan Budaya</category>
            
            
            <pubDate>Tue, 17 Jan 2006 06:03:33 +0700</pubDate>
        </item>
        
        <item>
            <title>Cara Menolak Rencana Anggota Dewan</title>
            <description><![CDATA[<p>Saya hanya penduduk biasa, menjalankan kewajiban dan (sepatutnya)
memperoleh hak-hak sebagai warga negara. Saya tidak memiliki
privilese istimewa, bukan ahli tata negara pun bukan ahli hukum.
Pertanyaan yang saya anggap penting dan sangat perlu saya ajukan
hari-hari ini adalah:</p>

<p><strong>Bagaimana cara kita, warga negara <abbr
title="Negara Kesatuan Republik Indonesia">NKRI</abbr>, menolak
<a href="http://www.kompas.com/utama/news/0510/22/052541.htm
" title="Tambahan Tunjangan Rp 10 Juta per Bulan Harus Dibatalkan">rencana tambahan tunjangan Rp 10
juta</a> yang
dilontarkan anggota <abbr title="Dewan Perwakilan Rakyat">DPR</abbr>?</strong></p>

<p>Sudah saatnya hari-hari ini kita tidak cukup hanya melakukan <i>amar
ma&#8217;ruf</i> kepada anggota dewan terkait dengan beberapa kali rencana
mereka perihal anggaran, melainkan sudah waktunya menegur mereka
sebagai <i>nahi munkar</i>. Tidak cukup lagi mengingatkan dengan
himbauan agar mereka peka terhadap kondisi rakyat yang diwakili
(setidaknya berdasarkan singkatan yang mereka sandang), akan tetapi
sudah seharusnya <em>menghentikan</em> tindakan tidak sensitif terhadap
situasi tersebut.</p>
]]></description>
            <link>http://coretmoret.web.id/arc/2005/10/cara-menolak-rencana-anggota-d</link>
            <guid>http://coretmoret.web.id/arc/2005/10/cara-menolak-rencana-anggota-d</guid>
            
                <category domain="http://www.sixapart.com/ns/types#category">Motivasi dan Sikap</category>
            
            
            <pubDate>Sat, 29 Oct 2005 06:45:58 +0700</pubDate>
        </item>
        
        <item>
            <title>Pengendara Sepeda Motor</title>
            <description><![CDATA[<p>Waktu masih tinggal di <a href="http://www.eastjava.com/plan/ind/kab-jember.html">Kabupaten
Jember</a> dan setelah itu sempat juga
menikmati beberapa saat di Bandung, sepeda motor adalah kendaraan
pribadi saya yang menyenangkan. Produk yang pernah saya pakai adalah
Honda Astrea 100 dan karenanya dengan lincah dapat ditunggangi
sampai dengan masuk gang sempit di daerah Cisitu Lama, Bandung.</p>

<p>Sekarang ini sepeda motor meledak pemakaiannya. Penjualan dengan
cara kontan atau kredit ditawarkan di banyak tempat dan menjadi
solusi yang terjangkau bagi sebagian besar orang. Di kampung saya,
yang hanya sebuah kota kecamatan di Jember, konon sudah menjadi
acara rutin hampir setiap hari sepeda motor diturunkan dari truk
pengangkutnya ke etalase agen penjualan. Atau dengan kata lain:
sepeda motor laris bak kacang goreng. Pada acara Pemilihan Kepala
Daerah Langsung di Jember yang berlangsung bulan lalu sepeda motor
juga dijadikan iming-iming &#8220;hadiah&#8221; yang dijanjikan salah satu
kandidat kepada calon pemilihnya. Entah benar atau hanya spekulasi,
yang jelas itulah gambaran &#8220;kemewahan&#8221; politik berbungkus hadiah
memenangkan pejabat di daerah.</p>
]]></description>
            <link>http://coretmoret.web.id/arc/2005/07/pengendara-sepeda-motor</link>
            <guid>http://coretmoret.web.id/arc/2005/07/pengendara-sepeda-motor</guid>
            
                <category domain="http://www.sixapart.com/ns/types#category">Motivasi dan Sikap</category>
            
            
            <pubDate>Fri, 22 Jul 2005 05:51:33 +0700</pubDate>
        </item>
        
    </channel>
</rss>

